Headline News

header-int

14-2-2018 : Sultan yang Cerdas dan Pesilat Ulung

Rabu, 14 Feb 2018, 11:29:22 WIB - 251 | Ir. Erizon, M.T

Kemakmuran kerajaan Inderapura mencapai puncaknya ketika dibawah kekuasaan Sultan Munawar. Seorang Sultan yang hebat dan mampu berbahasa Arab serta menguasai bahasa China. Tubuhnya agak tinggi sekitar 170 cm, berisi dan berotot, sorot matanya tajam, alisnya agak tebal, dan hidungnya sedikit mancung. Berkumis lebat dan melintang. Beriwibawa, namun juga baik hati kepada semua pendatang dan rakyatnya. Jika berbicara makin terasa kewibawaannya, dengan suara yang serak dan berat.

Sultan sangat percaya diri ketika berhadapan dengan bangsa bangsa lainnya di dunia, karena Sultan seorang yang terpelajar, dan menguasai ilmu beladiri yang hebat. Sultan belajar bahasa arab dan pemerintahan di Malaka, dan pernah menetap di Istana Kesultanan Aceh untuk memperdalam ilmu pemerintahan. Beliau mengembara dalam waktu yang lama di Canton untuk belajar bahasa china ketika masih muda. Ilmu bela dirinya diperoleh di pariangan, pedalaman Minangkabau, belajar silat kumango, dan melengkapinya dengan kerendahan hati gerak silat buayo dari Datuk Nago di Pesisir Painan.

Suatu kali Sultan Munawar diundang oleh Para Pedagang Persia sarapan pagi di atas kapal mereka. Orang-orang Persia ingin memperlihatkan isi kapal dan barang barang yang dibawanya dari Turki. Dan Kapal mereka tidak bersandar di pinggir, tapi justru agak di tengah muara pelabuhan, sehingga harus naik perahu mencapainya. Maksud mereka ingin menyaksikan kehebatan mereka kepada Sultan. Namun hal ini sudah diketahui oleh Sultan, dari cara mereka mengantarkan undangan sore sehari sebelumnya. Sultan juga tak mau kalah dan ingin memperlihatkan kehebatan kerajaan kepada orang Persia, agar mereka tak berani melancangkan diri dihadapan kerajaan Inderapura.

Ketika rembulan mulai pamit kepada matahari, dan pagi baru bersinar, dengan pakaian putih bersih bersandal kulit, dan kepala dibalut jubah putih yang dilingkarkan di kepala, Sultan berangkat dari istana dengan kuda putih ke sayangan beliau ke pelabuhan. Di-iringi oleh barisan prajurit kerajaan tanpa senjata. Sesampai di pelabuhan Sultan turun dari kuda dengan meloncat lincah, dan dengan menggunakan aji meringankan tubuh dari kitab kanzul masun yang beliau kuasai, langsung masuk ke muara yang berair dalam. Beliau berjalan ringan dan santai saja seperti berjalan di tanah yang rata, dan langsung naik ke kapal. Para pedagang Persia heran, terkaget kaget melihat sang raja berjalan dengan santai di atas muara tanpa penopang apa pun.

Setelah menyaksikan isi kapal dan sarapan pagi, beliau bertanya dengan bahasa arab yang lancar, tanpa penterjemah, tentang perkembangan kerajaan Ottoman, serta kemenangan dan kekejaman Portugis menguasai Ormuz dan Goa di India. Pedagang Parsia makin kagum dengan sultan, karena sultan sangat menguasai perkembangan yang terjadi di dunia arab dan daerah-daerah di teluk arab dan India. Setelah berbicara panjang lebar, para pedagang persia, amat senang dengan Sultan, dan memberi hadiah Pedang Panjang, yang berkaligrafi arab kepada sultan, dan sultan memberikan balasan beberapa batu cincin delima merah bermotif bunga kerang kepada kepala rombongan pedagang. Seiring mentari menaik di ufuk timur, sultan pamit kembali ke istana bersama para pengiring dengan perahu ke pinggir pelabuhan.

Mentari pagi telah menyingsing naik sekitar sedepa dari puncak bukit, menghangatkan udara khas pelabuhan. Menguapkan embun yang masih tersisa di daun kelapa yang menjurai turun. Air pasang masih tinggi, dan riak riak menghempas ke tepi karena percikan lalu lintas perahu yang mulai ramai hilir mudik membawa hasil bumi. Buih-buih berwarna agak putih kecoklatan melekat pada kayu-kayu penyangga lantai pelabuhan. Beberapa ikan tali-tali, simontong dan ikan mungkus berebut mengambil tempat di mana gelembung buih melekat. Jenis ikan ini selalu mencari tempat untuk melekatkan diri sambil mengisap makanan. Tidak demikian hal nya dengan ikan siluang, ikan gariang, dan ikan puyu yang berenang mencari makanan. Ikan-ikan ini liar dan sulit ditangkap karena selalu bergerak, baik di air tenang maupun di air deras.

Disaat perahu yang ditumpangi raja sampai di pinggir pelabuhan, dari arah muara muncul kapal layar berwarna merah, dengan garis garis hitam di tengahnya. Kapalnya besar, layarnya lebar, dan melaju dengan lambat. Pada bagian depan kapal bertuliskan aksara china, yang berarti “naga selatan”. Biasanya kapal yang bertuliskan naga selatan, berasal dari Canton, sebuah kota pelabuhan di bagian selatan daratan China, dibawah kekuasaan kerajaan Yuen. Dilihat dari gerakannya yang lambat, kapal ini mungkin bermuatan berat dengan beragam jenis barang. Sesaat kemudian bunyi pluit kapal terdengar keras memecahkan keheningan pagi dan membangkitkan orang-orang yang sedang sarapan di kedai-kedai pinggir pelabuhan. Bersambung....

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2018 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube