Headline News

header-int

17-4-2018 : Sultan Larut Dalam Suasana Curiga Mencurigai

Selasa, 17 Apr 2018, 13:51:17 WIB - 96 | Ir. Erizon, M.T

Kedatangan Panglima kerajaan kehadapan Sultan belum dapat mengidentifikasi siapa yang melakukan penyerangan dan kegaduhan di pagi itu. Panglima belum bisa memperkirakan siapa yang berada di belakang penyerangan ini. Untuk sementara Panglima akan menambah prajurit pengawal di sekitar istana.

Selanjutnya, Panglima memerintahkan prajurit untuk mengurus penyelenggaraan jenazah Tuo kambang dan prajurit Inderapura yang terbunuh, yang segera dimakamkan di Pekuburan kerajaan di Kotaraja Banda Aceh. Sedangkan mayat penyerang dilakukan pemeriksaan yang ketat. Wajahnya diperiksa, seluruh pakaiannya dan jenis rencongnya.

Dari pemeriksaan oleh pihak istana, belum diperoleh informasi yang bisa memberi petunjuk. Pakaian mereka hitam, bukan pakaian prajurit. Identitas juga tidak ada. Rencongnya pun jenis rencong biasa, yang sering digunakan rakyat kebanyakan.  Asal usulnya juga tidak jelas. Jika diamati kulitnya, mirip penduduk yang banyak tinggal di pantai barat. Tentara juga tidak ada yang kenal. Karena tidak ada lagi informasi yang bisa diperoleh, besoknya dikuburkan di pemakaman umum.

Panglima membentuk tim penyelidikan atas kejadian itu, yang langsung dipimpin oleh Panglima. Setelah penyelidikan berjalan beberapa bulan, masih belum diperoleh siapa yang melakukan penyerangan.  Kelompok mana yang harus bertanggung jawab. Siapa otaknya, dan dari pasukan mana juga belum didapat informasi yang mengarah pada orang-orang tertentu. Setiap satuan prajurit sudah diperiksa oleh sebuah tim yang ditugaskan panglima. Hanya saja satuan pengawal gudang, yang dianggap pasukan yang keahliannya biasa-biasa saja, karena bukan pasukan perang, tidak diperiksa secara ketat. Laporan Pangeran Indra Bangsa yang menyebutkan bahwa satuannya tidak ada yang kurang, dan tidak terlibat diterima saja oleh Panglima kerajaan.

Muncul berbagai spekulasi liar di luar istana, yang menyatakan bahwa kemungkinan beberapa Tengku (pemuka agama) ikut terlibat, karena banyak tengku yang kurang menerima kehadiran Putri Dewi di dalam pemerintahan. Memang ada sebagian Tengku dari aliran yang agak keras kurang setuju jika pengaruh Putri Dewi terlalu besar, karena yang jadi Sultan adalah suaminya. Di Kesultanan Aceh selama ini, seorang permaisuri hanya mengurus sultan dan rumah tangga saja, atau mendampingi Sultan dalam urusan-urusan sosial. Tidak dibiasakan mencampuri urusan pemerintahan, yang saat ini justru banyak dilakukan oleh Putri Dewi. 

Sementara Putri Dewi dan Sultan makin merasa tidak aman. Saling curiga satu sama lain di antara pejabat dan pangeran telah menimbulkan suasana tidak nyaman di dalam lingkungan istana kerajaan.

Memasuki bulan keempat setelah pristiwa subuh itu, Sultan melakukan penataan kembali susunan pemerintahan. Banyak pangeran dan para tengku dipindah tugaskan ke daerah daerah bawahan. Ada yang ke Barus, Sibolga, Pasai, Tapak Tuan, bahkan ada yang hingga ke Pariaman. Namun hal ini justru makin menimbulkan kebencian terhadap Putri dewi, karena spekulasi di istana bahwa yang menyusun penempatan para pangeran dan tengku adalah Putri dewi, sedangkan Sultan hanya melaksanakan saja. Sultan teramat sayang kepada Putri dewi, sehingga apa saja permintaan Putri jarang yang tidak dipenuhi Sultan.

Ada beberapa pangeran yang tidak ikut dipindahkan, terutama yang termasuk kelompok keluarga sangat dekat dan memiliki hubungan yang baik dengan Sultan. Berkat pendekatan dan kepintaran Pangeran Indra Bangsa, yang seperti orang tidak terlibat sama sekali, termasuk Pangeran yang tidak dipindahkan. Pangeran Indra Bangsa tetap mendapat kepercayaan sebagai pengendali logistik kerajaan di Ulele. Dia menampak kan diri sebagai orang yang patuh dan loyal terhadap Sultan.

Apa saja kemauan Putri Dewi dan Sultan dengan cepat dipenuhi. Dia sangat patuh kepada Sultan dan Putri Dewi, namun diam diam merupakan orang yang paling membenci keberadaan Putri Dewi. Bahkan ikut menghasut secara pelan-pelan agar Sultan memindahkan pejabat-pejabat yang tidak sejalan dengannya. Hal ini dilakukan Pangeran Indra Bangsa dengan maksud terselubung agar Sultan makin dibenci oleh sebagian pangeran dan pejabat istana, sehingga makin memudahkan Pangeran Indra Bangsa untuk mencapai tujuannya.  

Sultan telah menerima informasi dari Pangeran Indra Bangsa tentang adanya para tengku yang tidak menyukai kepeminpinan Sultan karena peran Putri Dewi, namun Sultan tetap kukuh dengan pendiriannya. Oleh karena itu, atas nasehat Putri Dewi, Sultan juga memiliki telek sandi pribadi agar Sultan memperoleh berita yang cepat dan akurat yang menyangkut pribadi beliau. Namun berita yang sampai kepada beliau merupakan berita-berita yang membuat beliau makin tidak memiliki arah kepemimpinan dan suka terhasut sehingga dengan mudah marah terhadap seseorang yang menjadi kurban fitnah dan hasutan. Bersambung .......

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2018 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube