Headline News

header-int

18-4-2018 : Pangeran Muda Perkasa Alam Mengintip Kursi Istana

Rabu, 18 Apr 2018, 08:16:58 WIB - 88 | Ir. Erizon, M.T

Dalam keadaan saling curiga satu sama lain, justru makin memperkuat pengaruh Pangeran Indra Bangsa. Dia makin dekat dengan Sultan dan Putri Dewi. Putra Pangeran Indra Bangsa, yakni Pangeran muda Perkasa Alam sering dibawa bertandang ke istana tempat peristirahatan Sultan, sehingga makin tahu seluk beluk pemerintahan dan gerak laku Putri Dewi. Kadang Perkasa Alam menyaksikan sendiri kebiasaan Putri Dewi mendikte Sultan dalam urusan urusan pemerintahan. Hal yang sangat tidak disukai oleh Perkasa Alam karena menurutnya Sultan harus mandiri, berintegirtas, mampu membuat keputusan tanpa dipengaruhi Putri Dewi. 

Sebagai orang muda yang baru menyelesaikan sekolah, banyak hal yang menurut pikiran Perkasa Alam tidak patut dalam sistem pemerintahan Kesultanan Aceh. Keputusan yang menyangkut rakyat banyak diambil secara tiba tiba oleh Sultan tanpa dimusyawarahkan dalam dewan kerajaan. Sultan lebih mendengar Putri Dewi, yang memang cerdas dan menguasai banyak pengetahuan pemerintahan. Menurut pikiran Perkasa Alam, lambat laun akan membuat kesultanan Aceh lemah. Perkasa Alam selalu berdiskusi dengan kakek dan Bapaknya tentang sejarah kesultanan yang kuat, dan hebat di masa lalu. Bahkan membicarakan banyak strategi yang diperlukan guna menghadapi masa depan.

Dalam kondisi demikian, Pangeran Indra Bangsa mulai mempermainkan distribusi logistik untuk kepentingannya, sementara Sultan sibuk mendengar dan menghimpun informasi dan berita berita  pelemahan terhadap beliau. Tanpa Sultan sadari, dengan seringnya  menerima informasi negatif dari telek sandi dan Pangeran Indra Bangsa sehingga kecurigaan dan hasutan sudah menjadi pemikiran keseharian Sultan dan Putri Dewi. Sultan menjadi larut dalam kecurigaan dan permusuhan atas orang-orang yang sebetulnya tidak tahu menahu dengan kerusuhan di pagi itu. Keperibadian Sultan makin lemah. Perhatian tidak lagi tercurah untuk membangun kesultanan. 

Setelah hampir setahun masih belum diperoleh juga informasi tentang siapa yang harus bertanggung jawab atas penyerangan Tuo Kambang. Berdasarkan  usulan dan pertimbangan Panglima Kerajaan kehadapan Sultan, akhirnya kasus ini ditutup, supaya  kecurigaan kepada orang orang yang belum tentu terlibat dihentikan sehingga pemerintahan dapat dikendalikan dengan baik. Sultan dapat menyetujui, tapi Putri Dewi tetap mengharapkan jika ditemui informasi yang kuat di kemudian hari, kasus ini perlu diselesaikan agar tidak menjadi kebiasaan dan pembiaran dalam lingkungan istana. Apalagi  menyangkut keselamatan Sultan dan keluarga, demikian harapan Putri Dewi.

Apa yang diinginkan Putri Dewi agar kasus kematian Tuo Kambang tetap perlu dilanjutkan dapat dipahami, karena sepanjang sejarah kesultanan, hasut dan intrik di kalangan pangeran sudah menjadi biasa, sehingga sering berakhir dengan pembunuhan dalam komplek istana tanpa diketahui pelakunya. Bahkan para Sultan terdahulu enggan untuk mencari pelakunya. Dibiarkan saja, karena jika diusut akan menimbulkan kegaduhan baru dan bisa dipandang lemah oleh rakyat. Para Pangeran selalu mencari kesempatan untuk memperoleh peluang menjadi Sultan. Kadang memanfaatkan satuan satuan prajurit dan para tengku.

Pangeran Perkasa Alam makin menunjukkan jati dirinya sebagai seorang yang temparamental, dan memiliki pengaruh di antara pangeran muda. Tubuhnya kuat dan tinggi besar. Dia antara banyak pangeran muda, Perkasa Alam paling berpengaruh, di samping cerdas juga hebat dalam berkelahi. Di kalangan anak muda di Ulele sangat disegani karena kalau berkelahi selalu menang. Banyak pekerja pelabuhan yang merupakan anak buah Pangeran Perkasa Alam, sehingga bongkar muat kapal dan lalu lintas kapal dikuasai oleh Perkasa Alam.  

Mereka makin sering berlatih bela diri dengan Perkasa Alam sampai larut malam. Setiap hari bertambah banyak pengikut Perkasa Alam. Berbagai senjata diam diam mereka kumpulkan di sebuah rumah tua di Ulele. Apa yang dilakukan oleh Perkasa Alam adalah atas restu dan sepengetahuan ayahandanya Pangeran Indra Bangsa, dan kakeknya Pangeran Darul Kamal. Kegiatan Perkasa Alam  tidak banyak diketahui oleh Sultan, karena Sultan lebih banyak pikiran dan energinya tercurah pada  informasi-informasi subyektif yang tidak membangun.

Hari berganti bulan dan tahun. Intrik dan berbagai fitnah makin menjadi jadi di kalangan pejabat istana. Demikian juga pengaruh Putri Dewi atas kebijakan Sultan memerintah kerajaan  sudah semakin jauh dalam urusan pemerintahan. Ketidak puasan hanya sebatas dibicarakan pada kalangan-kalangan tertentu saja. Tidak ada yang berani memberikan saran saran kepada Sultan. Di lain pihak, pengawasan Sultan juga berkurang terhadap pemerintahan. Ekonomi kerajaan menjadi menurun, karena tidak dapat mengatur pengelolaan perdagangan lada, emas, dan bea masuk kapal ke Ulele. Ketidak puasan sudah menunjukkan titik yang mengkuatirkan.

Di akhir tahun 1587, di saat hujan lebat mengguyur Kotaraja Banda Aceh, menjelang tengah malam terjadi kejadian yang menggemparkan kerajaan Kesultanan Aceh. Sekelompok pasukan siluman menuju rumah kediaman Sultan. Mereka berpakaian hitam hitam, dengan jumlah yang  banyak dan memiliki keahlian bela diri menyerang dengan tiba tiba. Pasukan pengawal istana tidak sempat mempersiapkan diri (menurut banyak pihak sengaja dibiarkan oleh pasukan pengawal). Sementara prajurit Inderapura yang mengawal Sultan dan Putri Dewi sedang istirahat. Mereka lengah di samping karena hari hujan lebat, juga karena berdasarkan arahan Sultan bahwa, pasukan pengawal Istana di bawah kendali Panglima Kerajaan sudah diperintahkan untuk selalu waspada pada titik titik sudut istana setiap harinya.

Penyerangan yang tiba tiba menimbulkan banyak korban. Korban para prajurit yang tidak tahu akar masalahnya. Mereka maju bertempur hanya untuk mempertahankan status keprajuritan guna sesuap nasi. Mereka hanya menjadi alat penyambung nafsu keserakahan pemimpinnya masing masing. Sudah menjadi takdir, wayang-wayang akan menjadi umpan srigala kekuasaan para dalang. Mereka siap dterkam dengan segala kepasrahannnya. Pemimpin penyerang entah di mana, sementara prajurit penyerang bersimbah darah dalam gemuruh angkara murka.

Perang tanding satu lawan satu terjadi dengan sengit. Gerak silat dan dentingan pedang yang beradu dengan rencong saling berbaur. Ada yang terluka dan tertusuk. Darah mengalir memerahkan genangan air hujan yang bening, bagaikan nafsu setan menguasai akal budi manusia. Nyawa tidak akan berarti lagi di saat nafsu para pemimpin  hendak mencapai tujuannya. bersambung ....

 

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2018 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube