Headline News

header-int

20-4-2018 : Penobatan Pangeran Muda Perkasa Alam

Jumat, 20 Apr 2018, 09:34:46 WIB - 93 | Ir. Erizon, M.T

Namun berselang dua hari kepergian Putri Dewi, keadaan di Ulele makin tidak aman.  Ada banyak gangguan keamanan di sekitar istana. Sultan Buyung merasa tidak memiliki kawan untuk membicarakan keadaan kerajaan. Sementara para menteri dan Tengku menjaga jarak dengan Sultan Buyung. Pangeran Indra Bangsa yang pada awalnya seperti sangat mendukung Sultan Buyung, mulai menjauh, bahkan sulit dihubungi. Sultan bagaikan berada dalam mahligai tahta tanpa kekuasaan.

Putri Dewi masih dalam pelayaran ke Indreapura. Intrik dan hasut makin menjadi-jadi, karena banyak pejabat istana, baik tengku maupun pangeran merasa bahwa Sultan Buyung tidak tepat menjadi Sultan Aceh. Dia bukan keturunan langsung para sultan. Hanya adik dari istri Sultan. Siasat pangeran Indra Bangsa tidak mengusulkan putra Putri Dewi, namun justru mengusulkan Pangeran Buyung dimaksudkannya agar secepatnya tongkat kesultanan jatuh kepada keturunan Pangeran Indra Bangsa.

Pada bulan ke dua pemerintahan Sultan Buyung, dalam suatu pertemuan di ruang istana, muncul keributan yang pada awalnya bermula dari perdebatan strategi menghadapi Portugis yang sudah menguasai Malaka dan Tumasek. Perdebatan berkisar, apakah Muara Pasai di pantai timur harus dilepas kepada Portugis sebagai kompensasi atas dominasi pelayaran di pantai barat oleh Kesultanan Aceh atau tidak. Ada yang tidak setuju, dan ada yang setuju. Oleh sebagian pejabat istana, Pangeran Buyung dianggap akan menjual tanah kesultanan kepada Bangsa asing, padahal maksud Sultan Buyung justru untuk menghindari konfrontasi langsung dengan Portugis karena kesultanan baru saja berkabung dan sebagian prajurit Aceh banyak menyebar di Barus, Meulaboh dan Pariaman. Perdebatannya sangat sengit, yang menyulut emosi satu sama lain.

Namun ini,  barangkali hanya sekedar pemantik api kemarahan terhadap Sultan Buyung.  Entah siapa yang memulai, hiruk pikuk berbuntut menjadi saling main rencong. Lempar kursi, seperti tak ada lagi kewibawaan Sultan. Beberapa prajurit merengsek ke dalam ruang pertemuan. Sedangkan Pangeran Muda Perkasa Alam berdiri tegak di halaman istana seperti memberi petunjuk kepada para prajurit yang masuk ke ruang pertemuan. Tiba-tiba Sultan Buyung tertusuk rencong dari belakang oleh entah siapa. Beliau tertusuk dua kali, dan akhirnya menghembuskan nafas dalam banjir darah di ruang istana seketika itu juga.

Kematian Sultan Buyung, yang sangat tak terduga, karena pemerintahannya baru berumur dua bulan, memunculkan keadaan yang gaduh di dalam ruangan istana. Para prajurit pengawal sultan juga berusaha masuk, sehingga saling sikut, saling tusuk, dan saling lempar menimbulkan banyak kurban. Banyak tenku dan pangeran tewas, termasuk Pangeran Indra Bangsa.

Melihat ayahandanya juga tewas bersimbah darah, Pangeran Muda Perkasa Alam masuk dengan amarah. Keadaan makin kacau balau. Tidak jelas lagi lawan kawan. Emosi dan nafsu telah menguasai ruang ruang istana. Akal sehat sudah dikesampingkan.  

Segera Perkasa Alam berkata “Sudah, sudah. Tak perlu lagi dilanjutkan. Keluar semua. Dan keadaan saya ambil alih”.  Semua terdiam. Banyak yang sudah roboh. Bapaknya sendiri mati tertusuk rencong, demikian juga kakeknya. Namun dengan tegar dia berdiri dengan kokoh.

Keadaan diambil alihnya. Istana dikuasai oleh orang orang suruhan Perkasa Alam. Sedangkan para prajurit pengawal istana dibiarkan pergi, termasuk prajurit Indrapura.   

Para prajurit asal indrapura yang masih tersisa, akhirnya segera ke luar komplek istana,  dengan berkuda menuju ke Ulele. Mereka merasa orang yang akan disalahkan nantinya oleh Perkasa Alam. Oleh karena itu, secepatnya menyingkir dari istana Darud Dunia. Dari jumlah 40 orang dulu mereka berangkat ke Ulele bersama Putri Dewi, hanya tersisa sebanyak 21 orang. Sebagian mereka tewas dalam tiga pristiwa berdarah, yakni saat pembunuhan Tuo kambang, kasus penyerbuan kediaman Sultan Firmansyah, dan peristiwa terakhir di Istana. 

Dengan naik kapal, rombongan prajurit itu berlayar meninggalkan Tanah Rencong menuju ke selatan.  Menyisir pantai barat Sumatera. Karena perbekalan yang sangat terbatas, dan cuaca yang tidak bersahabat, akhirnya seluruh rombongan bekas prajurit Indrepura yang tersisa tersebut terdampar di suatu tempat, yang landai dan masih jarang penduduk. Penduduk setempat menyambut mereka dengan baik, dan tanah tempat mereka bertapak pertama itu oleh penduduk setempat di sebut Tapak Tuan. Kelak daerah ini akan berkembang menjadi salah satu kota perdagangan,  Kota Tapak Tuan.

Seminggu setelah keributan itu, semua pejabat istana sepakat untuk menobatkan Pangeran Muda Perkasa Alam sebagai Sultan Aceh. Penobatan itu dilakukan pada awal tahun 1588, dengan gelar  Sultan Iskandar Muda sebagai Sultan Kesultanan Kerajaan Aceh, yang kelak akan menjadikan kesultanan Aceh menjadi Kesultanan yang amat disegani di pantai barat dan pantai timur.  Periode ini sebagai masa ke-emasan kesultanan Aceh.

Langkah awal yang dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda adalah menata kembali pemerintahan, memperbaiki pelayanan pelabuhann Ulele, dan memanggil semua raja dan sultan daerah bawahan. Beliau membersihkan istana dan komplek pemukiman sultan dari para prajurit dan pejabat curang. Beliau juga memerintahkan untuk mengadili para prajurit Inderapura jika masih ada di Kotaraja Banda Aceh. Beliau juga akan mencari Putri Dewi yang dianggapnya sebagai biang keladi rusaknya tatanan kesultanan Aceh. Bersambung....

 

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2018 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube