Headline News

header-int

23-4-2018 : Akhir Kehidupan Putri Dewi

Rabu, 25 Apr 2018, 17:03:01 WIB - 97 | Ir. Erizon, M.T

Berita kepulangan Putri Dewi sudah sampai ke telinga Sultan pada saat kapal yang membawa rombongan Putri Dewi sampai di Muara Padang. Sultan juga sudah dapat berita dari para telek sandi, tentang kejadian-kejadian yang menimpa keluarga Putri Dewi.

Sebagai orang tua tentu saja Sultan bersedih. Raut wajah Sultan tampak sangat tua. Jalan beliau sudah mulai bungkuk. Apalagi semenjak meninggalnya Guru besar beliau, Tuo Malin Magek. Sesuai dengan pesan beliau, bahwa jika suatu saat masuk dua ekor kelawar ke dalam ruang pribadi Sultan, itu berarti Tuo magek telah meninggal dunia. Kejadian itu telah beberapa tahun yang lalu. 

Esoknya kapal sudah memasuki Muara Gedang, dan menyusur batang Lunang kearah hulu. Sekitar sore menjelang matahari terbenam, kapal rombongan Putri Dewi sudah memasuki pelabuhan Muarasakai. Pada awal tahun 1588, Putri Dewi kembali mendarat di Pelabuhan Muarasakai, dengan segala suka dan dukanya selama di Ulele bersama Suami beliau Sultan Firmansyah.  Putri Dewi disambut bersama rombongannya oleh keluarga Sultan. Sultan dan keluarga amat bersedih, terlebih kehadiran Putri Dewi tidak lagi disambut oleh sang ibundanya, karena sudah meninggal dunia beberap bulan yang lalu akibat sakit yang dideritanya.

Beberapa lama kemudian, karena Sultan juga sudah sangat sepuh, kendali pemerintahan diserahkan kepada Putri Dewi, sebagai penguasa baru Kerajaan Kesultanan Inderapura. Sultan meninggal dunia tak lama setelah Putri dinobatkan sebagai pemimpin baru Kesultanan.  Puri Dewi memerintah dengan baik, sehingga perdagangan kembali ramai, dan Pelabuhan Muarasakai semakin berkembang.

Namun pada tahun ketiga, yakni tahun 1590, Pasukan Kesultanan Aceh atas perintah Sultan Iskandar Muda melakukan serangan besar besaran terhadap Inderapura dengan maksud untuk membunuh Putri Dewi, sebagai balas dendam Sultan Iskandar Muda atas kericuhan di Kesultaan Aceh. Dendam Sultan Isakandar Muda adalah akibat anggapannya bahwa  dianggapnya biang keladi kerusuhan di Ulele selama ini akibat kesewenangan Putri Dewi pada waktu beliau sebagai Permaisuri Sultan Firmansyah. Sultan Iskandar Muda menuduh  bahwa kekuasaan Putri Dewi yang sangat besar telah menimbulkan banyak korban dikalangan pangeran dengan memindahkan banyak pangeran ke luar dari Kutaraja Banda Aceh.    

Penyerangan Prajurit Aceh secara besar-besaran ke Inderapura tidak mampu dihadapi oleh Prajurit Inderapura sehingga Putri Dewi terbunuh, namun putranya dapat diselamatkan ke Air Pura. Bala tentra prajurit Kesultanan Aceh sempat menguasai Kota Indrapura dan pelabuhan Muarasakai selama dua bulan, sebelum mereka kembali ke Ulele.

Kerajaan Indrepura bangkit kembali dari kehancuran pada tahun 1616, pada saat kekuasaan dipegang oleh Raja Item. Kerajaan Inderapura masih eksis hingga tahun 1790, dibawah kendali keturunan Sultan Mansyur Syah, yakni Raja Inderapura III. Setelah dikuasai Belanda, kerajaan Inderapura terpecah menjadi beberapa Regent, yang diangkat oleh Belanda. Dan pelabuhan Muarasakai benar-benar hancur tidak dimanfaatkan lagi setelah tahun 1970-an. Sampai hari ini bekas bekas kebesaran kerajaan Inderapura dapat dilihat dan disaksikan di Muarasakai, Pulau Rajo, dan Pelabuhan Muarasakai. Tamat.

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2018 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube