Headline News

header-int

9-4-2018 : Sultan Firmansyah, Penguasa Baru Tanah Rencong

Senin, 09 Apr 2018, 15:24:03 WIB - 98 | Ir. Erizon, M.T

Menjelang magrib, pertemuan agung telah selesai, dengan kesimpulan bahwa semua sepakat menerima wasiat dan amanah Sultan Alaudin Syah, yang mempercayakan kelanjutan estafet pucuk pimpinan kerajaan kesultanan Aceh kepada Pangeran Firmansyah. Suasana yang dirasakan pada akhir sidang memang tidak memperlihatkan kesepakatan yang bulat. Musyawarah, langsung hadirin setuju dengan yang ditulis dalam surat wasiat Sultan. Para Pangeran hanya patuh atas amanah Sultan Alisyah. Walaupun semua pangeran diam atas amanah ini, namun mereka harus menerima dan menjalankan keputusan.

Rapat agung bubar. Semua kembali ke tempat masing-masing. Besok menjelang matahari tegak akan diadakan pengukuhan Sultan agar pemerintahan segera dapat dikendalikan.  Disepakati juga bahwa tidak akan diadakan pesta besar-besaran karena acara berkabung bagi rakyat Aceh masih belum habis. Di samping itu, dikuatirkan akan menimbulkan permasalahan baru di kalangan pangeran, yang dari awal kurang sepaham dengan pengangkatan pangeran Firmansyah sebagai Sultan Aceh yang baru.

Di lain pihak, Putri Dewi sebagai permaisuri yang baru menginginkan diadakannya pesta peresmian agar rakyat dan para negeri bawahan mengetahui bahwa Sultan Aceh pengendali penuh kerajaan yang baru adalah Sultan Firmansyah. Tuo kambang juga memberikan saran kepada Putri Dewi agar diadakan acara sembah dan peresmian ucapan selamat dari rakyat dan negeri bawahan. Penobatan ini, menurut Tuo kambang,  akan memperlihatkan kepada semua kalayak kerajaan, bahwa Sultan berul betul berkuasa dan memiliki kewenangan sebgai Sultan. Soal masa berkabung,  tentu saja tetap diperhatikan dan disesuaikan dengan kondisi yang ada.

Setelah pemerintahan berjalan normal, dan dua bulan setelah masa berkabung, maka tetap diadakan peresmian dan rasa syukur rakyat atas pengangkatan Sultan baru. Diundang semua pangeran, penguasa daerah bawahan, serta para sultan daerah tetangga. Sultan Inderapura, ayahanda Putri Dewi juga diundang hadir. Acara sangat besar. Rakyat berpesta pora, seperti pesta pernikahan Sultan Firmansyah dengan Putri Dewi beberapa tahun yang lalu.

Setelah selesai hari suka cita pesta penobatan Sultan, hari hari pemerintahan berjalan sebagaimana mestinya.  Intrik-intrik mulai bermunculan kembali atas kepemimpinan Pangeran Firmansyah, yang sekarang bergelar Sultan Firmansyah. Menurut para pangeran, Kepemimpinan Sultan Firmansyah dianggap lemah, dan terlalu dikuasai oleh Putri Dewi sebagai permaisuri. Bahkan beberapa pangeran mengusulkan secara diam diam kepada Sultan agar Sultan segera menikah kembali dengan  Putri Aceh, yang akan diangkat menjadi permaisuri, namun Sultan Firmansyah selalu menolak dengan halus.

Disamping itu, beberapa pangeran mulai kuatir atas kehadiran Tuo kambang di sekitar kekuasaan. Orang tua yang kaya pengalaman dengan tutur kata mengesankan bagi siapa saja yang berhadapan dengan beliau. Bahkan ada anggapan bahwa Tuo kambang lah yang banyak memberikan masukan dan saran atas jalannya pemerintahan kepada Sultan. Di antara beberapa pangeran yang kurang mendukung Sultan Firmansyah, terdapat Pangeran Darul Kamal dan putranya Indra Bangsa.

Suatu hari menjelang malam larut, mereka berdiskusi di rumahnya tentang keadaan kerajaan Kesultanan Aceh.

“Sebenarnya..., Ayah tidak sependapat dengan penunjukan Pangeran Firmansyah sebagai Sultan. Tapi apa boleh buat, Perdana manteri langsung mengetok palu persetujuan, sehingga ayah tidak bisa mendebat lagi”.

“Kenapa Ayah keberatan. Apa alasan ayah? “

“Sebenarnya, Ayah ragu dengan kematian Sultan Alisyah. Kita kan tidak pernah tahu apa penyebab sakitnya. Sultan  memang sudah tua, tapi kan beliau masih kuat  sebelumnya.  Ayah curiga, jangan-jangan Putri Dewi yang memberi racun kedalam makanan beliau, karena hampir tiap hari Putri Dewi menyuguhkan makanan masakannya kepada Sultan Alisyah”.

“Racun? Apa mungkin ayah.... apa yang harus kita lakukan ayah ?”, desak Indra Bangsa. Pada saaat  mereka berdiskusi hangat, diam diam dari balik tirai anak laki laki Indra Bangsa, atau cucu dari pangeran Darul Kamal, mendengarkan percakapan mereka dengan seksama. Nama anak laki laki itu  adalah Perkasa Alam, yang merupakan cucu kesayangan dari Pangeran darul kamal.

“Yaa. Jangan lakukan tindakan apa–apa. Kita lihat saja nanti. Jika pengaruh Putri Dewi sudah terlalu besar dalam kekuasaan, berarti mungkin dia yang berada di belakang kematian Sultan Alisyah. Karena Ayah dengar mereka juga akan mendudukan adiknya, Buyung, dari Inderapura sebagai Pangeran Kehormatan”.

“Sekarang kita juga tidak bisa apa-apa. Karena hampir semua panglima kesatuan prajurit dan hulubalang istana berada dalam genggaman Sultan. Coba Kamu pantau selalu gerak gerik prajurit yang dibawa dari Inderapura. Amati terus. Dan ayah akan menghadap Sultan agar kamu yang dipercaya menjadi Kepala pemasok pangan kebutuhan Prajurit pengganti kedudukan Sultan. Jika itu dapat dikuasai, maka sebagian besar panglima akan berada dalam pengaruh mu”.

“Yaa Ayah. Aku akan ikut saja perintah Ayah”.

“Besok siang ayah akan menghadap Sultan”.  Seiring malam makin larut, ayah dananak itu bubar dan kembali ke kamar masing-masing. Namun secara tiba tiba mereka dihadang Perkasa Alam yang dari tadi mengintip pembicaraan mereka berdua berdiskusi dari balik kain penghalang pintu pemisah. Dengan senyum mereka bertiga memperlihatkan tangan ke mulut, sebagai tanda tidak boleh bicara kepada siapa pun. Bersambung.........................

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2018 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube