Headline News

header-int

Cerpen : Desi Kanai (kena) Sijundai

Kamis, 25 Okt 2018, 06:28:23 WIB - 102 | Ir. Erizon, M.T

Dari tadi pagi, rumah Desi ramai dikunjungi orang se kampung. Apalagi hari ini hari Jumat, orang kampung tidak ke ladang, karena akan melaksanakan sholat Jumat berjamaah. Tua muda, laki perempuan dan juga ada beberapa anak anak, berkumpul di halaman Rumah Desi. Mereka ingin melihat kondisi Desi. Menurut kabar mulut ke mulut, sudah dari sehabis magrib malam Jum’at,  Desi suka berteriak teriak, memukul mukul dinding, dan bicaranya ngawur ke mana mana.

Rambutnya terurai kusut, mata cekung karena kurang tidur, tatapan mata kosong. Kadang menakutkan, karena sesekali berteriak teriak. Wajahnya yang cantik memucat, memperlihatkan ketidak seimbangan jiwa. Tak lagi bersinar. Untuk sementara Desi dikurung dalam kamarnya oleh kedua orang tuanya. Hanya kedua orang tua dan kakak tertuanya yang bisa masuk ke kamarnya.

Sekitar pukul 08:30, saat matahari mulai naik di ufuk timur, Desi semakin sering berteriak-teriak, memanggil manggil sebuah nama. Memanjat-manjat dinding. Menggapai gapai dinding. Kadang menarik narik rambutnya. Bahkan beberapa jarinya sudah mulai berdarah, karena luka tertusuk kayu saat memanjat almari kayu di kamarnya.

Menurut kedua orang tuanya, perubahan diri Desi mulai terasa dari tadi malam, sehabis magrib. Desi gelisah, uring uringan, berjalan hilir mudik di beranda rumah, seperti ada sesuatu yang dia tunggu. Matanya tajam memandang ke luar rumah. Ikat rambutnya yang terjalin rapi, ditanggalkannya. Baju yang biasa rapi, mulai longgar dan tak beraturan. Ketika ibunya bertanya, dijawab dengan judes, tanpa ekspresi. Hal yang tak pernah dilakukannya selama ini kepada ibunya. Desi adalah anak yang santun kepada ibu dan bapaknya.

Beberapa laki laki duduk di ruang tengah rumah. Menjaga, agar Desi tidak lari ke luar rumah. Nama yang dipanggil adalah nama seorang pemuda dari kampung seberang. Desi berteriak-teriak, ingin bertemu dengan seorang pemuda.

Berteriak keras-keras “keluar kan saya. Buka pintu. Buka pintu. Saya mau ke tempat Akil. Akil.....jemput saya”. Dipukul-pukulnya pintu sambil menyebut nama Akil. Dipanjatnya lemari, mencari jalan keluar. Mau meloncat dari jendela. Tapi jendela dan pintu memang sudah dikunci dari luar.

Para ibu-ibu kaget mendengar nama Akil, pemuda seberang. Akil seorang pemuda nakal, tinggi kurus, dan sehari hari bekerja serabutan. Jika malam dia suka berjudi. Dia sering melawan kepada orang tuanya. Kedua orang tuanya sehari-hari hidup dari mengumpul kayu di hutan untuk mencukupi biaya hidup mereka. Kadang jika hari baik, orang tuanya menakik getah. Akil sekolah hanya sampai  kelas tiga SD, karena nakal dan pancaruik.

Ayah dan ibu Desi sudah kehilangan akal. Sudah dua orang dukun dipanggil untuk memberi obat dengan berbagai ramuan tapi belum memperlihatkan hasil yang diharapkan. Mamaknya yang bergelar Datuk Cewang Dilangiak, pontang panting mencari bawang bakung, ayam jantan hitam, urat ilalang dan asam limau puruik ke ujung kampung untuk dijadikan bahan ramuan mandi, agar Desi bisa sadar dari pengaruh sijundai yang biasanya disampaikan dengan gasing tengkorak. Namun Desi masih tak berubah.

Kemeyam di bakar oleh seorang orang tua yang duduk di sudut rumah agar pengaruh gasing makin berkurang. Tapi Desi makin meraung raung. Pengaruh gasing amat kuat, berarti dukun yang menggasing Desi sangat hebat ilmunya.

Orang-orang yang berkumpul di halaman mulai tahu bahwa Desi kena Sijundai, digasing tengkorak oleh Akil. Berbagai ciloteh terdengar. Siapa yang mengerjakan gasing buat Akil. Kenapa Desi bisa kena sijundai, kan sudah lama tak terdengar gasing tengkorak di kampung ini. Masih ada Gasing tingkurak hari ini?

Seorang ibu mengumpat, “Nanti kalau tahu siapa dukunnya. Jangan dilihat jika ia meninggal. Ndak usah disholatkan. Biar masuk neraka jahanam”.

“Iya. Juga tu Si Akil, biar dipacanggingkan. Jangan disapa. Kalau perlu, usir dari kampung ini”, sambung Tek Imah yang duduk di sebelahnya.

Sepuluh hari yang lalu, Desi pulang dari Padang, karena libur kuliah. Seperti biasanya, dia menumpang sebuah bus angkutan antar kota dari Padang. Desi adalah anak yang periang. Di bangku belakang bis duduk pula seorang pemuda, yaitu Akil. Namun entah kenapa hari itu, bisa jadi karena letih di perjalanan, Desi kelepasan bicara kepada Akil, yang tanpa ia sadari mungkin menyakiti hati lawan bicaranya.

Terlompat kata Desi, karena banyak sekali pertanyaan macam macam dari Akil, “kok uda ingin tahu saja urusan orang”

Lantas si Akil menanya lagi, entah bergurau entah serius, “Alah ado adik yang punya? Kalau belum awak mau tu”

Jawab Desi, “saya sudah ada yang punya. Paresolah diri dulu da, baru melamar orang. Mandilah dulu da, baru mananyo urang. ”.

Kata terakhir itulah, yang dianggap Akil sebagai penghinaan. Mungkin Akil dikira dibilang bau busuk oleh Desi, sehingga Akil terdiam dan membisu hingga sampai di kampung.

Semenjak itu, timbul dendam dalam diri Akil kepada Desi. Esoknya Akil menemui seorang dukun tua yang dia kenal dari seseorang di balik bukit puncak gunung jantan. Dia sampaikan maksud kedatangannya, dan diuraikan penderitaan batin atas hinaan seorang gadis kepadanya. Dengan berhiba dan menangis Akil meminta kepada Dukun Tua itu untuk digasingkan agar gadis itu mau mengejar-ngejarnya. Akil memberi imbalan tiga emas, dan beberapa rupiah, serta perjanjian jika berhasil, Akil harus mau menikahi gadis itu.

“Ya, Mbah. Aku akan menikahinya”, jawab Akil.

Besoknya, setelah Akil tinggal semalam di pondok Dukun itu, sehabis mangrib, dukun tua itu mulai merentang tali gasing. Karena yang paling manjur mulai menggasing adalah sehabis magrib, karena pada saat itu setan sijundai mudah disuruh oleh dukun. Akil duduk dihadapan dukun tua itu.

Gasing itu bentuknya tipis, seperti tutup botol lemon. Tapi bahannya dari tengkorak manusia, biasanya tengkorak wanita, ukuran gasing kira kira 2 x 4 cm. Talinya berupa bekas kain kafan dua helai, yang dipilin halus. Tali ujung pilin yang satu di ikatkan ke empu jari kaki, sementara yang ujung yang satu di tarik tangan. Kemeyam dibakar oleh si Akil. Mulailah si dukun memainkan gasing dengan mantra yang dinyanyikan dengan berbagai intonasi irama. Kadang sedih, kadang seperti marah, dalam irama ber-ilau ilau.

"Gasing tengkorak batali jo kain kafan, di patang kamis malam jumat, tolonglah japuik si rajo setan, japuiklah Desi si gadis sombong, suruhnyo sujuik di kaki Akil. Jikok tak namuah tanggang matonyo, tanggang salero bia nyo raso, tanggung sijundai bia Desi nyo namuh jo si Akil, siang jo malam nyo cari Akil. Bayangkan ka pikiran Desi, bahaso Akil gagah urangnyo. Ndak adoh tandingannyo di dunia nangko. Capeklah sijundai sirajo setan. Akil manunggu di pondok nangko”.

Makin ditarik kencang tali gasing oleh si Dukun makin meraung-raung Desi. Setiap disebut nama Akil, makin dalam cinta Desi. Mantra itu di-ilaukan berkali kali oleh dukun. Biasanya menjelang marahari pagi naik, akan diilaukan lagi, sampai Desi bertemu dengan Akil. Jika sempat Desi dapat ke luar rumah, Desi akan bisa menemui Akil dengan dibimbing suara halus menuju tempat Akil. Walau pun tempat Akil jauh.

Akhirnya menjelang Jumat, Imam Katik dari suku kaumnya datang ke rumah Desi, meminta agar orang yang hadir di rumah Desi membacakan Surat Yasin secara bergantian. Dan meminta agar kemeyam dipadamkan. “Buang kemeyam itu. Syirik. Dosa besar”, kata Imam Katik.

Imam Katik menambahkan, “ilmu hitam harus di lawan ilmu putih, yakni Al-quran. Bukan dengan kemeyam”.

Tak lama setelah orang di rumah Desi membaca Al-Quran, tali gasing dukun putus. Dukun terkongkang di pondoknya. Keringat dinginnya mengalir. Akil pucat pasi melihat dukun tergeletak. Mulut dukun berbuih. Melihat Dukun tak sadarkan diri, Akil melarikan diri. Akil lari menuju bukit sebelah. Dia takut.

Di rumah Desi, orang mulai melihat ada perkembangan yang luar biasa atas Desi. Desi mulai sadar, dengan mengusap-ngusap mata. Memandang ke sekeliling. Mulai senyum sedikit. Bundanya meminumkan teh hangat. Tepat Azan Jumat berkumandang, Desi dimandikan oleh bundanya. Dan semua yang hadir bersyukur atas sadarnya Desi dari pengaruh gasing tengkorak.

Senin pagi, Desi kembali ke Padang untuk melanjutkan sekolahnya.

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2018 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube