Headline News

header-int

Cerpen : Putusnya Jembatan Kami

Senin, 06 Agu 2018, 14:58:24 WIB - 158 | Ir. Erizon, M.T

Menjelang magrib, ketika matahari sudah menyelinap di balik bukit karang  putih gerombolan kalong-kalong (di kampung di sebut kalaluang) telah bergelantungan pada pohon bayur tua di sebelah barat kampung. Setiap hari, mereka terbang jauh dari arah bukit barisan mencari makanan. Burung gagak dan burung murai terbang mendekati sarang -sarangnya. Sebentar lagi siang akan berganti dengan malam. Burung hantu, penguasa malam, juga sudah mulai memperlihatkan diri di atas dahan pohon durian, melihat dengan mata tajam setiap gerakan di atas tanah. Mengintai tikus-tikus di sawah. Penduduk kampung sudah bersiap untuk pergi ke mesjid. Suasana kebatinan dan ketenangan sangat terasa.

Ketika bedug dipukul bertalu talu, pertanda waktu sholat magrib hampir tiba, bergegas tua muda menyeberang jembatan menuju mesjid tua di seberang kampung. Mesjid tua itu, Mesjid Djihad,  menurut para tetua kampung sudah ada jauh sebelum mereka lahir. Kalau diperkirakan, menurut orang tua-tua  yang paling tua di kampung, sudah sekitar 170 tahun.

Mesjid ini sangat strategis, karena berada di pinggiran sungai, dengan air bening  selalu mengalir. Lebar sungai itu sekitar 45 meter. Sungai itu persis di depan di arah mimbar mesjid, sekitar 10 meter dari dinding mesjid,  arusnya mengalir dengan deras. Di pinggir sungai dekat mesjid, tumbuh pohon beringin besar, yang membuat rindang dan sejuknya suasana mesjid. Pohon ini juga telah menjadi penyangga utama, yang menahan lokasi mesjid jika banjir datang. Jika sore banyak burung-burung murai dan burung balam bersarang.

Untuk mempermudah mengambil wuduk, masyarakat mengalirkan sebagian air sungai ke sebuah banda (saluran) di samping mesjid. Di pinggir banda sebelahnya ada sebuah bangunan kecil, tempat jamaah  buang air besar atau buang air kecil.

Walau pun lokasinya berada di seberang kampung, di pinggir hutan,  mesjid tua ini, selalu ramai karena air dan suasananya sejuk. Biasanya juga sarana penduduk untuk saling bertemu, karena pada siangnya mereka disibukkan kegiatan ke sawah atau ke kebun masing masing. Jalan satu-satunya yang menghubungkan pemukiman dengan mesjid, adalah sebuah jembatan gantung dari akar dan rotan yang saling dibalut satu sama lain, sehingga menjadi kuat dan lantainya dibuat dari papan. Jembatan itu disebut jembatan goyang, namun tua muda dapat menyeberang melalui jembatan goyang itu. Mereka saling membantu jika ada yang tidak berani sendirian menyeberang melewati jembatan.

Kami semua penduduk kampung, sangat senang dengan jembatan ini. Yang muda akan bergegas datang ke mesjid agar dapat membantu yang gadis-gadis melewati jembatan. Menjaga para wanita menyebarang. Bersenda gurau dan ketawa-ketawa bersuka ria hingga sampai di ujung jembatan. Dan kembali setelah  selesai sholat juga seperti itu. Hebatnya tak ada yang merasa saling memanfaatkan. Biasa-biasa saja.

Tak ada gadis yang merasa janggal jika dibimbing teman prianya di jembatan, jika sigadis tak mampu menyeberang sendirian. Sesampai di mesjid si gadis dan teman prianya akan berwudhu lagi. Semua merasa gembira. Jembatan itu telah menjadi laksana jembatan siratal-mustaqim bagi masyarakat kampung menuju pintu sorga.

Namun bagi Pakih Muklas, jembatan itu telah mejadi media untuk mempertemukannya dengan wanita pujaannya yang sekarang menjadi istrinya. Dulu pakih, selalu cepat datang ke jembatan  agar dapat membimbing tek Ina (semasa Tek Ina masih gadis)  menyeberang jembatan itu menjelang magrib. Kebaikan dan perhatian Pakih Muklas menjadi salah satu penarik Tek Ina mau dilamar menjadi istrinya. Itu pun Pakih harus bersaing  dulu dengan Pak Nazar yang sama-sama ingin memperistri Tek Ina. Tapi karena Pakih pandai Azan dan suaranya merdu, akhirnya keluarga Tek Ina memilih Pakih menjadi suami Tek Ina. 

Ada juga kisah menarik dari jembatan itu. Kisah Pak Sabir. Pak sabir malah mempraktekkan ilmunya di jembatan ini. Pak Sabir menggunakan ilmunya untuk mengambil hati Tek supar.

Supar adalah gadis yang menjadi rebutan banyak lelaki muda. Dia manis, pandai memasak, pandai mengaji, dan santun pada semua orang. Tapi susah didekati. Kata orang kampung: Supar Jinak-jinak merpati. Namun menurut berita sebagian orang  di kampung, Supar menunggu seorang pemuda pandai dari kampung seberang, yang sedang menunggu pemulangannya dari Pulau Buru. Menurut berita, lelaki pujaannya terlibat partai politik terlarang pada masa sulit sebelum tahun 1966. Lelaki itu orator, pintar, dan pandai mengaji. Lelaki itu menginginkan perubahan cepat. Bagi dia sebetulnya, partai hanya sekedar alat perjuangan, bukan  pemahaman ideologi. Namun dia tetap saja tercatat sebagai anggota aktif, sehingga dia ditangkap dan dibuang.

Bertahun Supar menunggu, dengan diam, dengan tawakal, dan selalu berdoa, namun tak pernah ada kabar beritanya. Beberapa tahun kemudian diketahui, bahwa lelaki itu telah menikah dengan seorang perempuan bule yang sedang melakukan studi antropologi di Pulau Buru. Sekarang mereka entah di mana. Informasi tersebut diam-diam diketahui oleh Sabir.

Konon Pak Sabir baru selesai menuntuk ilmu guna-guna dengan minyak sari pati madu kepada seorang dukun di kampung lain. Minyak itu merupakan sari pati dari madu lebah hitam, dimasak dengan ramuan akar serai harum, ditambah dengan bisa kalajengkeng. Kemudian di ramu dengan ucapan-ucapan mantra yang dajarkan oleh gurunya kepada Pak Sabir.

Minyak itu harus dioleskan ke tangan orang yang diinginkan untuk membuktikan keampuhan ilmu yang baru dituntutnya. Dan tentu saja lokasi yang tepat tanpa diketahui orang, ya di jembatan itu. Pak Sabir muda orangnya santun, baik, tapi tak mampu mengucapkan kata cinta kepada pujaan hatinya, maka dilakukan lah hal yang tak terpuji ini di jembatan goyang itu.

Sebelum magrib, Sabir telah duduk di pangkal jembatan untuk membantu gadis yang dimaksud. Hingga selesai magrib Tek Supar tak kunjung datang, karena tek Supar lagi sakit perut akibat banyak makan jengkol muda kesukaanya. Tepung jengkol telah melilit perutnya sehingga perutnya sakit, sehingga Tek Supar tidak dapat pergi ke mesjid.

Pada hari ketiga, Tek Supar sembuh dari lilitan tepung jengkol. Menjelang magrib Tek Supar telah melangkahkan kakinya ke mesjid, dan tanpa diketahuinya maksud Pak Sabir. Dibiarkannya tangannya dibimbing Pak Sabir menyeberang jembatan goyang.

Malamnya Tek Supar bermimpi-mimpi dengan Pak Sabir. Pikiran tek Supar mau bertemu saja dengan Pak Sabir.  Pada bulan kedua mereka nikah dan baralek. Itulah keampuhan iImu minyak oles Pak Sabir. Tapi Pak sabir tak mau menggunakan untuk maksud lain, dan bahkan tak pernah diberitahu kepada orang lain, sehingga tak ada penduduk kampung yang tahu dengan kepandaian Pak sabir. Sampai akhir hayat, Pak Sabir hanya menikah dengan Tek Supar.

Jembatan juga telah menjadi media sosial yang mendamaikan dua orang yang bermusuhan. Ketika mereka akan sholat magrib dan isya, atau sholat Jumat,  kadang bertemu untuk menyeberang tanpa sengaja, akan terpaksa tolong menolong sehingga mendamaikan mereka yang pernah berkelahi atau bermusuhan. Itulah hebatnya jembatan itu. Tak ada yang lama-lama bermusuhan atau tak bertegur sapa. Paling lama juga tiga hari, setelah itu terpaksa bertegur sapa, karena banyak kegiatan akan dilakukan melalui jembatan itu.

Jembatan itu juga telah menjadi banyak saksi sejarah beragam budaya kampung, dan telah menjadi saksi atas perkembangan mesjid Jihad.     Perkembangan kampung, dan beragam kejadian di kampung selalu melalui jembatan itu. Musyawarah juga diadakan di mesjid. Anak-anak muda mengaji juga di mesjid. Belajar silat setelah sholat isha pada malam minggu di halaman belakang mesjid. Mau ke ladang, ke sawah juga melewati jembatan itu. Bahkan jembatan itu juga telah menjadi jembatan antara hidup dan mati penduduk kampung. Setiap jenazah di kampung disholatkan di mesjid Jihad, sebelum ke tempat kuburan juga melewati jembatan gantung itu. 

Pada akhir tahun 1997, ketika beberapa kelompok orang dari kota propinsi, dengan beragam peralatan, yang menurut berita, sedang melakukan survey mencari lahan bagi perkebunan tanaman kelapa sawit sebuah perusahan swasta. Perusahaan itu telah memiliki izin dari pemerintah. Banyak peralatan yang diangkut melalui jembatan itu. Karena tidak mampu menampung beban, akhirnya jembatan itu runtuh. Berbagai upaya  dilakukan kepala kampung kepada pihak perusahaan agar jembatan itu dikembalikan seperti biasa, namun pihak perusahaan bersekukuh bahwa jembatan itu runtuh karena telah lapuk, bukan karena  perusahaan. Akhirnya jembatan itu dibiarkan, dan masyarakat sudah keberatan membangun kembali, karena juga akan dimanfaatkan oleh perusahaan. Dengan runtuhnya jembatan itu, penduduk kampung sulit datang ke mesjid. Hanya-hanya orang yang pulang dari ladang saja yang mampir ke mesjid. Sholat magrib dan isya sudah jarang  dilakukan di mesjid itu.

Jembatan itu hancur dan tak pernah dibangun lagi, seiring dengan hancurnya hak-hak kepemilikan masyarakat kampung terhadap tanah di sebelah bukit kemuning. Seiring dengan makin jarangnya anak-anak muda  ke mesjid. Tanah perbukitan itu, kata pihak perusahaan  adalah punya negara, dan merekalah yang memperoleh izin untuk mengolah dan memanfaatkannya.  Orang kampung yang tak tahu aturan hanya menerima saja. Semua berakhir.

Tak ada lagi keceriaan. Tak ada lagi jembatan tempat mereka bersenda gurau. Dan mesjid telah rusak karena jarang dikunjungi.  Beberapa tahun kemudian, pemerintah membangun jembatan baru, namun berada jauh dari kampung.

 

Painan, 6 Agustus 2018

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2018 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube