Headline News

header-int

Ditangkap Belanda

Selasa, 09 Okt 2018, 06:45:10 WIB - 23 | Ir. Erizon, M.T

Pergerakan Ilyas dan kawan kawan telah menggema di-berbagai penjuru nusantara. Banyak pejuang di Jawa telah berhubungan dengan Ilyas Yakub, dan bekerjasama dalam menyusun strategi menghadapi Belanda, Mereka tertarik dengan konsep kebangsaan dan agama. Di antara para pejuang yang berhubungan dengan Ilyas adalah Soekarno.

Secara organisasi dalam menghadapi kolonialisme Belanda, PERMI berkompromi dengan Pertindo-nya Soekarno. Bentuk komprominya adalah berkoalisi memperkuat perjuangan kebangsaan, antara lain jika di suatu tempat berdiri cabang Pertindo, maka di sana tidak lagi perlu ada cabang PERMI, demikian juga sebaliknya. Dengan demikian, perjuangan kebangsaan dan agama telah sejalan dan berbimbingan tangan. Pertindo dengan Permi sudah dianggap identik.

Ilyas Yakub semakin menunjukkan pengaruhnya dalam berbagai medan debat politik dengan pemerintahan kolonial. Jika Jawa banyak dipengaruhi Soekarno, maka Sumatera banyak disemangati Ilyas Yakub. Pada saat yang sama, seluruh komponen Bangsa dari mana pun asal usulnya memiliki semangat kuat menjadi Indonesia. Antara lain pada tanggal 4 Oktober 1934 para pemuda keturunan Arab mendeklarasikan Sumpah Pemuda Keturunan Arab, yang menyatakan dirinya sebagai Bangsa Indonesia.

Karena dianggap membahayakan pemerintahan kolonial, Belanda mengeluarkan kebijakan yang menyatakan PERMI terlarang yang diikuti tindakan penangkapan terhadap tokoh-tokohnya. Ilyas Yakub bersama dua sahabatnya, Mukhtar Luthfi dan Janan Thaib, ditangkap dan dipenjarakan. Mereka dipenjarakan di rumah tahanan Muaro Padang.

Setelah 9 Bulan di Penjara Muaro Padang, karena Belanda masih melihat pengaruh yang sangat kuat dari Ilyas Yakub terhadap perjuangan rakyat di Sumatera, maka Ilyas Yakub diasingkan ke Bauven Digul pada usia 31 tahun, Irian, bersama para pejuang pergerakan Kemerdekaan Indonesia lainnya, antara lain Hatta dan Soetan Syahrir. Keluarga muda ini memulai babak baru perjuangan yang sangat panjang dan melelahkan dalam upaya tetap mempertahankan prinsip perjuangan yang dianutnya. Ilyas dan Tinur berada di Bauven Digul selama lebih kurang 10 tahun (1934-1944). Berbagai cobaan dan deraan dialami Ilyas dan Tinur. Makanan yang sangat terbatas. Nyamuk Malaria yang berkembang di belantara rawa-rawa Digul. Keterbatasan informasi dan bahan bacaan, serta tidak ada akses ke luar, kecuali naik kapal layar Belanda.

Suatu kali Ilyas Yakub ditawari kerjasama oleh Belanda, dengan kompensasi akan di tempatkan di Bukitinggi sebagai penasehat pemerintah, namun Ilyas selalu menolak. Bahkan terakhir Ilyas diminta untuk tidak aktif lagi di politik, agar dikembalikan ke Padang. Tapi semua ditolak oleh Ilyas Yakub.

Setelah Tinur melahirkan, karena keterbatasan obat dan perawatan, Tinur sering sakit-sakitan. Mereka tetap bertahan dengan segala kekurangan. Dengan masuknya Jepang, para tahanan Digul semakin memprihatinkan, karena Irian masih dalam kekuasaan Belanda, sehingga pasokan makanan ke Digul menjadi semakin sulit karena blokade Jepang.

Agar mereka tidak dimanfaatkan oleh Penjajah Jepang, para tahanan dan keluarga mereka dipindahkan Belanda  ke daerah pedalaman Irian, yakni di hulu kali Bina Wantaka. Ketika Pasukan Perang Jepang dapat merebut Jayapura, dan terus ke selatan, seperti Meroeke dan dataran rendah Digul, pada tengah malam dengan kapal Belanda, Ilyas dan keluarga diasingkan ke Australia, sebagai status titipan kepada Ingris.

Di Australia, Ilyas dibujuk oleh Van der Plas dan Van Mook (penguasa Belanda), namun semangat nasional dan Islamnya tidak pernah surut menetang penjajah dalam menggerakan terwujudnya kemerdekaan Indonesia. Ilyas tidak menyerah, walau rayuan Belanda cukup manis, dan cobaan berat terus dihadangnya.

Setelah kemerdekaan 17 Agustus 1945, Pemerintah Soekarno menyuarakan pemulangan para tahanan dan pejuang Indonesia yang ditahan di Luar negeri, termasuk yang berada di Australia. Pada bulan Oktober 1945 para tahanan perang dari Autralia dipulangkan ke Indonesia dengan kapal Experence Bey, tapi  Ilyas Ya’kub tidak diizinkan turun di pelabuhan Tanjung Periuk karena Ilyas tidak mau menandatangani pakta kerjasama dengan Belanda.

Perlawanan terhadap Jepang dan Belanda masih sengit di berbagai tempat. 3 Oktober 1945 para pejuang mengepung Pekalongan dari sisa pendudukan Jepang. Tentara Belanda mengambil manfaat dari situasi tersebut. Belanda yang ikut bersama Inggris ingin kembali menguasai Indonesia. Para pemuda dan pejuang dengan penuh semangat menggelorakan perang menghadapi Belanda, yang mencapai puncaknya pada tanggal 10 November 1945, di Surabaya.

Hal ini diketahui oleh Ilyas Yakub, sehingga Ilyas makin tidak mau bekerjasama dengan Belanda. Ia kembali ditahan dan diasingkan bersama Isteri selama 9 bulan,  yang berpindah-pindah dari Kupang, Serawak, Brunei Darussalam, kemudian ke Singapura (Salah satu putranya, Iqbal meninggal di sana ).

Pada tahun 1946 barulah Belanda membebaskan Ilyas Ya’kub. Ia diturunkan di Cirebon. Karena Ilyas sudah banyak dikenal para pejuang melalui tulisan dan sepak terjangnya di Mesir, maka dengan mudah Ilyas diterima para pejuang di Cirebon. Dari Cirebon diseludupkan ke Sumatera oleh para pejuang dan mendarat di Padang. Ilyas bergabung kembali dengan kaum republik dan ikut bergerilya pada tahun 1948. Karena keadaan yang makin genting terhadap eksistensi Negara Indonesia, Ilyas Yakub bersama para pejuang lainnya membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia atau PDRI, yang kemudian dipimpin oleh Mr. Safruddin Prawiranegara. Bersambung .......

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2018 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube