Headline News

header-int

Perjalanan Yang Mendebarkan

Jumat, 05 Okt 2018, 06:26:52 WIB - 41 | Ir. Erizon, M.T

Pertengahan tahun 1929, Pelabuhan Iskandariyah disibukkan dengn lalu lintas kapal kapal perang inggris dan kapal dagang dari berbagai Negara. Pelabuhan Iskandariyah merupakan pelabuhan terakhir sebelum memasuki Terusan Suez, untuk selanjutnya menyeberang ke Samudera Hindia melalui Laut Merah. Ilyas Yakub bersiap akan naik ke sebuah kapal dagang, yang akan membawanya ke Hindia Belanda. Dia bersyukur memperoleh tiket, setelah melalui perjuanagn berat untuk mendapatkannya, karena Ilyas Yakub adalah orang yang selalu diawasi mata mata Belanda. Dia mendapat tiket berkat bantuan induk semangnya, seorang pedagang arab, yang sering ia bantu berdagang di Kairo.

Menjelang malam Kapal angkat sauh, dan siap berlayar ke arah utara menuju Terusan Suez. Di atas kapal, dia merenung kembali perjalanan hidupnya selama di Mesir. Dia ingat masa-masa awal sampai di Mesir. Dia pernah tersesat di Pelabuhan Iskandariyah, sebelum bertemu dengan seorang pedagang arab yang membimbingnya menuju Kairo. Di kemudian hari pedagang Arab ini menjadi orang yang membimbingnya berdagang di pinggiran Kota Kairo. Tanpa terasa, ternyata dia sudah lebih kurang 6 tahun di Mesir, dan 2 tahun di Mekah. Sudah lebih kurang 8 tahun dia tidak melihat Tinur, emak, dan Bapaknya. Tentu Tinur sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik, dan berisi. Apalagi Tinur saat ini juga sudah merantau jauh ke Kerinci bersama orang tuanya. Demikian juga kedua orang tuanya tentu sudah makin rapuh ditelah usia.

Kapal terus berlayar mengiringi malam. Lampu lampu nelayan di sepanjang pantai laut tengah berkelap kelip. Sesekali ada letusan, yang barang kali merupakan letusan senjata beberapa pemberontak di bagian Semenanjung Sinai yang tidak puas terhadap pemerintahan Raja Farauk, atau senjata latihan para zionis di semananjung Sinai, yang dijaga Inggris. Menjelang pagi, kapal sudah mencapai kota Port Said di mulut Terusan Suez. Setelah berhenti sebentar mengurus administrasi perizinan, kapal terus berlayar memasuki Terusan dengan pengawalan angkatan laut Inggris. Menyusuri terusan yang sebagian masih sedang dikerjakan oleh Ingris untuk diperlebar, akhirnya menjelang matahari terbit kapal memasuki kota Suez, sebelum mencapai Laut Merah.

Pada akhir tahun 1929, kapal yang membawa Ilyas Yakub mendarat di Singapura. Tidak jadi ke Medan. Dengan hati-hati, karena ia orang yang masih dicari Belanda, Ilyas berusaha mencari kapal yang langsung ke Teluk bayur, tapi tidak ditemukannya. Dia putuskan untuk naik kapal yang menuju Jambi, agar dapat segera meninggalkan Singapura, karena Pemerintah Ingris yang menguasai Singapura memiliki kerjasama pertahanan dengan Kolinial Belanda, setelah pertukaran Bengkulu yang dikuasai Ingris dengan Singapura yang awalnya dikuasai Belanda. Dari Jambi dia menempuh jalan darat berliku untuk mencapai Padang, dan langsung ke Kerinci.

Namun karena keadaan yang sulit waktu itu, Ilyas tidak bisa langsung ke Kerinci. Ia tunda sementara keinginannya untuk menikahi Tinur demi perjuangan yang harus segera ia mulai sekembali ke Tanah Air. Ilyas berbelok ke Medan, sebagai tempat perjuangan awal di Tanah Air.

Dari Medan ia naik kapal ke Batavia, untuk menemui teman-temannya di Jawa yang bergerak dalam Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Serikat Islam (PSI). Dari pengalaman dua partai temannya tadi (PNI dan Partai Serikat Islam ) Ilyas Ya’kub berfikir, bahwa jiwa yang dimiliki kedua partai tersebut, yakni Islam dan Kebangsaan adalah hal yang harus dikombinasikan,  dan dikonsolidasikan kemudian. Selanjutnya diwadahi dengan satu wadah yang refresentatif.

Sekembali Haji Ilyas Ya’kub ke Medan dari Jawa tahun 1930 ia memformulasikan idenya : Islam dan kebangsaan dalam dua kegiatannya, yakni bidang junalistik dan politik. Dalam Bidang Junalistik dia wadahi melalui penerbitan pers, yakni Tabloid Medan Rakyat. Dalam Bidang Politik Ia bersama temannya, Mukhtar Luthfi, mendirikan PERMI (Persatuan Muslim Indonesia) dengan asas Islam dan Kebangsaan. Tujuannya menegakan Islam dan memperkuat wawasan kebangsaan untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Dengan dasar Islam dan Kebangsaan ini, PERMI menjalankan sikap Politik non koorperatif dan tak kenal kompromi terhadap imperialisme dan kolonialisme. Karena itu pula PERMI secara prinsip menyimpulkan bahwa kapitalisme dan imperalisme pemerintahan kolonial Belanda dan Inggris merupakan penyebab penderitaan rakyat Indonesia. Bersambung.......

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2018 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube