Headline News

header-int

Bagaimana Menumbuhkan Budaya Literasi Dikalangan ASN?

Rabu, 24 Februari 2021, 12:45:24 WIB - 60 | Kontributor : Wildan, S.E., M.I.Kom
Bagaimana Menumbuhkan Budaya Literasi Dikalangan ASN?

Mengapa sebagian besar ASN enggan atau belum berminat memanfaatkan bacaan seperti majalah, buku, koran atau media lainnya? Atau seberapa besar kSebuah pertanyaan yang bisa menjadi renungan kita saat ini ketika melihat fenomena tersebut. Mereka lebih cenderung berselancar di dunia maya di komputer atau gawainya karena lebih menarik dengan berbagai ilustrasi gambar, film dan game lainnya. Bahkan hanya sebagian kecil ASN yang memiliki kemampuan menulis.

Hampir di setiap pojok baca maupun perpustakaan kantor pemerintah mungkin bisa dibilang jarang dijadikan tempat membaca, itupun kadang dijadikan sebagai tempat/ ruangan merokok atau sekedar tempat mengobrol saja. Terkadang hanya 1-2 aktifitas ASN yang menikmati kegiatan membaca atau menulis pada jam istirahat di kedua titik itu. Boleh dibilang aktifitas literasi jarang terlihat saat ini.Padahal, pimpinan sering memberikan arahan terkait aktifitas membaca dan menulis ini.

Secara sederhananya literasi dapat diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca, budaya literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya. Sebagaimana diketahui,keberadaan ASN didominasi oleh kalangan terdidik dan terpelajar sudah seyogyanya menjadi motor penggerak budaya literasi di tengah masyarakat Indonesia.

Penulis mengamati beberapa penyebab lesunya ASN melakukakn aktivitas literasi di kalangan mereka, seperti budaya akademik yang belum terbiasakan dilakukan ASN. Momentum diskusi, brainstorming, kajian internal secara tupoksional membedah isu-isu aktual masyarakat sangat perlu didorong dan gerakkan menjadi menu harian di instansinya. Kemudian, jarang bahkan absennya sosok teladan yang suka membaca dan menulis di institusi tersebut. Kita mesti diakui kalau elit organisasi belum memberikan bukti nampaknya akan sulit menggemukkan seruan literasi ini. Selain itu, komentar miring biasa datang dari mereka, membaca dan menulis itu hanya dilakukan orang-orang yang tak punya pekerjaan, hanya membuang-buang waktu atau mereka yang pemalas saja. Padahal dengan melakukan keduanya, akan mengasah kepekaan sosial dan mempertajam intelektual kita.

Padahal, dengan  kondisi rendahnya minat baca di kalangan ASN, mereka dihadapkan lagi dengan kondisi yang berkembang dalam masyarakat luas pada saat ini, dalam hal penggunaan media sosial (medsos), yaitu masifnya berbagai informasi negatif yang tidak sejalan dengan kemampuan masyarakat untuk memfilter kebenaran dari sebuah informasi yang beredar tersebut yang berpotensi merusak sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa. Hoax, hasutan, ujaran kebencian semakin marak beredar di dunia maya.

Jika melihat kembali kepada hasil survei dari studi Most Littered Nation In the World 2016 tentang budaya literasi  di Indonesia masih sangat rendah dan jauh tertinggal. Dari 61 negara yang diteliti tingkat literasinya, menempatkan Indonesia di urutan ke-60 setelah Bostwana (Peringkat kedua dari bawah). Menurut riset UNESCO, indeks minat baca Indonesia 0,001 %. Itu artinya dari seribu orang hanya ada satu yang memiliki minat baca, dan hanya baru sampai "minat baca".

Kita dapat melihat di berbagai negara maju, kegiatan menulis telah menjadi semacam gaya hidup masyarakatnya. Biasanya, Aktivitas menulis biasanya berbanding lurus dengan aktivitas membaca. Ditambah lagi dengan kondisi masyarakat saat ini sudah yang banyak kritis, dengan penguasaan Teknologi Informasi (TI) yang relatif sudah tinggi. Dimana dialektika yang tinggi yang bisa menimbulkan polarisasi sebagai akibat dari kurangnya filterisasi informasi. Akibatnya dapat menimbulkan perpecahan persatuan dan kesatuan bangsa.

 

ASN merupakan unsur perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh sebab itu, adalah kewajiban setiap ASN mulai dari tingkat unit kerja mengembangkan budaya literasi di kalangannya untuk mengimbangi tsunami informasi yang ada di media sosial. Yang perlu diingat,  jangan berharap masyarakat membaca jika itu belum menjadi budaya.  “Membiasakan membaca” akan mudah bagi masyarakat jika ada gerakan masif yang dipelopori oleh kalangan terdidik dalam hal ini salah satunya adalah ASN.

Dari tulisan diatas penulis dapat menyimpulkan untuk membudayakan literasi ini, yang dapat  kita antara lain menggelar forum diskusi, kompetisi menulis, dan lain sebagainya. Organisasi kepegawaian seperti Korpri bisa menginisiasi sekaligus pelopornya. Jalan lain, yakni mendorong pembuat kebijakan untuk membuat regulasi yang mewajibkan setiap ASN membuat karya ilmiah atau tulisan populer di media sebagai upaya melatih kemampuan literasi di tingkat lokal. Medianya sudah ada, penulis yakin instansi yang bergerak di bidang Kominfo dapat menjadi fasilitator publikasi penulisan ini. Dan tentunya, memiliki karya tulis sesuai bidang yang ditekuninya sebagai hasil buah pikirnya. Hal tersebut sebagai sebuah kebanggaan, juga bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi rekan sejawat dan masyarakat untuk melakukan hal serupa. Mari berliterasi.

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2021 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube