Headline News

header-int

Kepemilikan Melahirkan Kecemasan

Senin, 29 September 2025, 09:40:14 WIB - 211 | Kontributor : Riva Endra

Ada rasa aneh yang tumbuh setelah kita memiliki sesuatu. Saat tangan kita menggenggam, dada kita justru mulai sesak. Bukan karena kebahagiaan yang memuncak, melainkan karena ketakutan akan kehilangan. Apa pun yang kita sebut "punya", diam-diam menuntut kita untuk berjaga, waspada, dan siaga. Di situlah, kepemilikan melahirkan kecemasan secara halus namun terus-menerus.

Kita pikir memiliki akan membuat kita tenang. Sebuah rumah akan membuat kita merasa aman. Sebuah nama akan membuat kita dihormati. Sebuah hubungan akan membuat kita tidak kesepian. Tapi nyatanya, begitu kita menuliskan nama kita di atas sesuatu, saat itu pula lahir rasa takut. Takut rusak, takut gagal, takut direbut, takut ditinggalkan. Semuanya berakar dari satu hal, kita tak mau kehilangan apa yang sudah kita anggap milik.

Ironisnya, banyak hal yang kita perjuangkan seumur hidup justru menjadi beban batin yang paling berat. Mobil yang kita beli dengan cicilan panjang, rumah yang kita bangun dengan jerih payah, pasangan yang kita peluk erat semuanya bisa menjadi sumber cemas. Karena semakin besar rasa “ini milikku”, semakin besar pula bayangan kehilangan yang membuntuti.

Kecemasan itu tidak datang dari luar. Ia tumbuh di dalam. Dari pikiran kita sendiri yang sulit melepaskan. Padahal, dunia tidak pernah menawarkan kepemilikan yang abadi. Semua yang datang, akan pergi. Semua yang hidup, akan hancur. Tapi kita menolak hukum itu. Kita menutup mata, dan mengikatkan diri seolah waktu bisa dikunci.

Adakalanya kita merasa damai justru saat kehilangan. Ketika sesuatu yang kita jaga hilang, dan tak bisa kembali, di titik itu kita mendadak pasrah. Kelegaan aneh muncul. Seperti beban yang tak lagi harus kita gendong. Mungkin, kehilangan bukan selalu kutukan. Bisa jadi ia adalah pembebasan dari kungkungan kepemilikan yang semu.

Banyak orang belajar melepaskan, tapi hanya sedikit yang sungguh-sungguh ikhlas. Karena melepaskan bukan sekadar mengucapkan "aku tidak butuh", tapi menyentuh kedalaman batin yang bersedia hidup tanpa mengikat. Hidup yang menerima aliran waktu, dan tidak menahan apapun lebih lama dari yang seharusnya.

Kita butuh benda, kita butuh relasi, kita butuh pencapaian. Tapi barangkali, kita tak perlu menggenggam semuanya terlalu erat. Cukup menaruhnya dengan hormat di sisi kita. Menghargainya, menjaganya, tapi tahu bahwa ia bukan bagian dari jati diri kita yang paling dalam.

Sebab, siapa kita tidak ditentukan oleh apa yang kita miliki, melainkan oleh bagaimana kita berdiri ketika semua yang kita miliki pergi. Apakah kita runtuh, atau justru menjadi utuh? Di sanalah letak kekuatan sejati: bukan pada kepemilikan, tapi pada keikhlasan.

Kepemilikan mungkin membuat kita merasa berdaya. Tapi hanya keikhlasan yang benar-benar membuat kita merdeka. Dan dalam kemerdekaan itu, kecemasan kehilangan tidak lagi tumbuh. Karena kita tahu, segala yang datang hanyalah titipan. Dan tugas kita bukan memiliki, tapi merawat—sampai tiba waktunya untuk menyerahkan kembali.

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2026 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube