Headline News

header-int

Sejarah Keynesian Sebagai Pengungkit Ekonomi Pesisir Selatan

Senin, 01 Februari 2021, 15:28:59 WIB - 56 | Kontributor : Wildan, S.E., M.I.Kom
Sejarah Keynesian Sebagai Pengungkit Ekonomi Pesisir  Selatan

Pandemi Covid -19 menjadi sebuah momok yg menakutkan bagi negara-negara dunia. Setiap harinya terjadi peningatan kasus positif dan yang meninggal dunia. Hingga saat ini menurut data worldmeters.info (per 1 Februari 20210) kasus positif Covid-19 mencapai 103 Juta jiwa lebih, meninggal dunia lebih kurang 2, 2 juta dan sembuh mencapai 75, 1 juta jiwa.  Bagi negara dengan kemampuan moneter dan fiskal yang tidak begitu kuat atau pada negara-negara yang sedang berkembang hal ini tentunya akan mengganggu stabilitas ekonominya secara makro.

Berbagai kebijakan melalui pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di berbagai daerah, imbauan dan maklumat negara melalui social dan phsyical distancing serta slogannya bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah menjadi kebijakan untuk rakyatnya demi memutus mata rantai pandemi Covid-19 ini. Namun hal ini juga berdampak kepada pergerakan ekonomi masyarakat di berbagai kalangan yang pada akhirnya berpengaruh juga dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara umum.

Bagi masyarakat menengah kebawah yang berpenghasilan rendah seperti pekerja atau buruh harian dan pekerja informal lainnya, yang memiliki kondisi tidak bisa makan kalau sehari tidak bekerja apalagi hanya mengandalkan bantuan sosial alias bansos, keadaan ini tentu tidak relevan. Harus diakui fakta yang ada dimana antara kebijakan negara dan kenyataan di lapangan berbanding terbalik dengan keadaan masyarakat,  yang mana negara menginginkan masyarakat untuk tetap tinggal di rumah guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19, tetapi masyarakat ingin tetap beraktivitas dalam memenuhi kebutuhan ekonominya sehari-hari.

Dahulu ketika Great Depression melanda Amerika dan Eropa pada tahun 1930-an, dimana ekonomi kedua wilayah ini mencapai titik terendah dan terjadi pengangguran dimana-mana sehingga masyarakat ketika itu tidak mampu memenuhi kebutuhan ekonomi hariannya. Seorang ahli ekonomi John Maynard Keynes memiliki ide yang radikal dengan memberdayakan rakyat untuk bekerja melaksanakan proyek-proyek milik negara. Secara sederhana ia meminta Pemerintah membayar masyarakat untuk menggali lubang dan kemudian menutupnya kembali. Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan saat itu, dan Pemerintah harus menciptakan lapangan pekerjaan agar orang dapat memiliki uang sehingga ekonomi berputar kembali.

Dan saat ini, ketika wabah Covid-19 ini masih menjangkiti masyarakat, penulis melihat ajaran dari teori Keynesian ini masih relevan, namun perlu dimodifikasi sesuai dengan kondisi dan perkembangan zaman khususnya di Indonesia. Secara hakikatnya sama, tentang bagaiman ekonomi bergerak secara dinamis di masyarakat. Stimulus melalui bantuan sosial berupa program jaringan pengaman sosial (JPS) hanya menjadi solusi pragmatis dan jangka pendek. Hingga perlu solusi jangka panjang dan berkelanjutan.

Penulis melihat Pemerintah dan turunannya perlu membuat langkah-langkah strategis yang mengacu kepada ide Keynes ini. Secara pragmatis melalui program-program padat karya yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku dalam pembangunan di wilayahnya. Intervensi pemerintah diperlukan untuk menghidupkan kembali putaran ekonomi di masyarakat. Secara prinsip pemerintah mendorong daya beli dan konsumsi di masyarakat dengan program kerja dari, oleh dan untuk masyaarakat.

Jika kita kerucutkan lagi pada Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, hal ini tentunya bisa diaplikasikan. Melalui bauran program yang ada seperti Dana Desa, PKH dengan inovasi skala lokal seperti kebijakan pembelian produksi pertanian maupun perikanan masyarakat.  Selain itu juga Pemerintahannya perlu berani membuat terobosan dengan pembangunan fisik yang melibatkan masyarakat yang ada di wilayahnya tersebut dalam bingkai program Padat Karya.

Pesisir Selatan yang merupakan daerah yang karakteristiknya sebagian besar bergantung kepada sumber daya pertanian perikanan dan perkebunan memiliki pergerakan ekonomi lambat berkembang dari daerah lain. Namun cukup tahan terhadap pengaruh turunnya ekonomi makro yang terjadi saat pandemi ini bisa diakselerasi perkembangannya dengan melibatkan masyarakatnya dalam pembangunan. Potensi ini tentunya menjadi peluang bagi semua pihak untuk kembali duduk bersama dalam menghadapi situasi ini.

Penulis melihat cara yang paling efektif sekarang ini adalah perlu adanya kerjasama yang kuat sesama komponen masyarakat untuk masing-masing mengedepankan kebersamaan kolektif kolegial dan berpikir positif serta berkhusnuzhan kepada semua pihak serta mengesampingkan ego sektoral dan egosentris, serta politis untuk sama-sama berjuang menaikkan kembali. Secara ekonomis analisis Teori Keynesian yang dikemukakan diatas tentunya juga perlu didukung dengan kebijakan lainnya. Dalam hal ini bagaimana kita secara bersama-sama menegakkan aturan protokol kesehatan penanganan Covid-19 melalui 3M (Mencuci Tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak) pada pribadi masing-masing dan  mendukung upaya Pemerintah melalui 3T ((Tracing, Testing, Treatment) pada semua lapisan masyarakat. Mungkin ini bisa direnungkan dan diuji.

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2021 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube