Malam bainai hingga saat ini tetap dipertahankan di sebagian kecil masyarakat. Di Pesisir Selatan tradisi malam bainai pada beberapa Kecamatan memang tampak masih menyemarakkan perhelatan perkawinan, melaksanakan sesuai dengan langgam yang di pakai dimasing masing daerah. Sementara sebagian masyarakat lainnya telah mulai meninggalkannya, bahkan ada daerah yang sama sekali tidak melaksanakan kegiatan ini dan berganti dengan bentuk acara lain misalnya pegelaran musik program dan lain - lain.
Lengayang yang dikenal sebagai pusek jalo kumpulan ikan, tradisi malam bainai bertahan pada daerah atau kampung-kampung tertentu, misalnya Tarok Gadang, Aie Janiah, Lubuk Begalung kesemuanya berada di Nagari Lakitan, dan Kambang Harapan nagari Kambang. Konon dahulunya di Kecamatan ini malam bainai dilaksanakan merata di setiap Kampung dalam pesta perkawinan.
Seperti dikatakan tadi, di Kecamatan lain sudah teramat sulit menemukan digelarnya acara malam bainai ini. Tak ada catatan resmi kapan tradisi ini mulai ditinggalkan orang. Sehingga malam bainai mulai dianggap sebagai tradisi yang asing dan agak aneh di Pesisir Selatan.
Sebagai bahan bagi kita semua, berikut dituturkan pelaksanaan malam bainai di Tarok Gadang yang hingga kini masih dipegang teguh masyarakat setempat. Dikatakan unik karena tradisi ini mulai langka.
Seperti biasanya malam bainai dilaksanakan sebelum mempelai melangsungkan pernikahan, sebagai bentuk hiburan yang diberikan kepada mempelai oleh teman-teman sebaya, senda guraupun terlihat disana.
Malam bainai digelar setelah Magrib atau setelah Isya, berlangsung hingga tengah malam. Kegiatan ini sebelumnya telah disepakati sebagai bagian penting dalam pernikahan seseorang, ia diputuskan lewat mufakat yang dinamakan minum kopi nagari yang dihadiri oleh ninik mamak sehari atau beberapa hari menjelang perhelatan dimulai.
Menurut keterangan warga setempat Umar di dampingi Ketua grup seni Cimpago Mudo Ipal menyebutkan, malam bainai adalah malam yang disediakan dan dirancang khusus untuk mempelai dan dihadiri oleh rekan sejawat, teman sepermainan jumlahnya puluhan bahkan ratusan orang. Jadi acaranya memang diperuntukkan bagi muda-mudi.
Dahulunya, malam bainai juga merupakan satu - satunya wadah resmi bertemunya antara gadis dan jejaka, ajang untuk berkenalan, bahkan tidak jarang pertemuan merekapun berlanjut kepernikahan seperti yang dialami mempelai yang sedang mereka saksikan.
Kemudian disisi lain ada nilai sosial yang hendak dicapai dari kegiatan malam bainan tersebut, misalnya upaya untuk menghimpun dana bagi rekan sejawat guna membantu mempelai alakadarnya.
Umar dan Ipal juga menyebutkan, unsur terpenting yang harus ada dalam prosesi malam bainai tersebut adalah ; pertama mempelai, kemudian kedua kawan-kawan sejawat baik laki laki maupun perempuan yang kemudian disebut dengan anak inai.
Umar dan Ipal menyebutkan, menurut tradisi sebenarnya sebelum nikah berlangsung, anak inai biasanya datang bersama sama dan telah terorganisir sedemikian rupa. Mereka sebelumnya berkumpul pada jarak yang cukup jauh dari lokasi pesta, setelah itu bergerak menuju rumah mempelai sambil menyanyikan lagu malam bainai diiringi musik tradisional, misalnya talempong, gendang, dan serunai, keceriaan tampak mewarnai wajah mereka.
Setelah tiba dihalaman rumah mempelai, mereka terus saja menyanyikan lagu malam bainai hingga akhirnya sipangka datang menjemput anak inai ini dengan sirih dicarano. Setelah anak inai menerima sirih merekapun bergerak kehalaman dan menuju tempat yang telah disediakan khusus bagi acara malam bainai tersebut.
Mempelai dengan pakaian marapulai jika laki-laki, atau pakaian anak daro bagi perempuan didampingi tuo maratpulai/anak daro telah menunggu duduk ditempat yang mudah di lihat para anak inai. Dihadapannya selain ada inai juga ada sebuah bantal kecil. Anak inaipun akhirnya mengitari mempelai.
Sementara inai telah tersedia dihadapan mempelai dalam sebuah wadah. Mempelai siap untuk bainai. Namun di Tarok Gadang ada aturan main pemasangan inai tersebut. Tampaknya pemasangan inai tidak terbatas di kuku atau ujung jari saja, tidak jarang inai ditempelkan kewajah mempelai, ternyata untuk hal tersebut mempelai tidak boleh protes. "Ya namanya acara muda-mudi," ungkap Ipal.
Untuk memasang inai, anak inai dengan sukarela biasanya harus merogoh kocek, dan besar uang yang harus dikeluarkan anak inai tergantung sasaran inai, jika pada ujung-ujung jari biasanya lebih murah dari bagian wajah misalnya hidung dagu dan sebagainya.
Acara penting lainnya malam bainai di Tarok Gadang adalah taaruf atau ajang tampil kemuka khalayak untuk berkenalan dan terakhir menggelar lelang singgang ayam. Acara ini dipandu seorang pembawa acara.
Taaruf pada malam bainai sebenarnya acara yang ditinggu-tunggu, karena biasanya banyak wajah-wajah baru akan tampil baik bujang maupun gadis dari daerah lain. Caranya sederhana saja, misalnya pemandu atas permintaan anak inai yang mulai duduk berpencar menunjuk seseorang untuk tampil kedepan lalu memperkenalkan diri. Ingat ! bagi yang tidak mau tampil akan dikenakan sangsi atau denda. Maka dengan malu-malu dan wajah berubah merah merona, terutama para gadis tampil kedepan, apalagi banyaknya permintaan dari hadirin yang harus dipenuhi. Tidak sedikit juga dana terkumpul lewat kegiatan ini.
Seperti yang disinggung tadi, kegiatan sosial lainnya ternyata juga berlangsung disini. Atas inisiatif anak inai sendiri mereka menggelar lelang singgang ayam. Setiap yang hadir berkesempatan untuk ikut andil memperebutkan singgang ayam yang nilai nominalnya sudah ditetapkan, kegiatan ini berlangsung hingga tengah malam.
Dari seluruh rangkaian malam baian tersebut, selain menghibur dengan suka cita mempelai yang hendak menuju mahligai rumah tangga anak inai menyerahkan sumbangan dari rekan rekan sejawat yang terkumpul lewat rangkaian kegiatan tadi, tidak jarang jumlahnya mencapai jutaan.
Ipal menyebutkan, uang tersebut seratus persen diserahkan kepada mempelai dan dipergunakannya kelak untuk kebutuhan saat menjalani penganten baru.