Headline News

header-int

Tradisi Malamang Yang Mulai Tergerus Zaman

Minggu, 11 Agu 2019, 00:11:40 WIB - 49 | Kontributor : Robby Octora Romanza
Tradisi Malamang Yang Mulai Tergerus Zaman

Pesisir Selatan - Tradisi “Malamang” atau memasak lemang, yang menjadi bagian dari kebudayaan Minangkabau mulai tergerus keberadaannya.

Pasalnya di sejumlah daerah perkotaan, tradisi ini mulai ditinggalkan saat memasuki perayaan Hari Raya besar ataupun perayaan lainnya.

Namun tidak bagi masyarakat Lumpo Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan. 

Meskipun tak seramai dulu, namun sejumlah rumah yang berada pada beberapa Kenagarian di Lumpo, masih melestarikan tradisi tersebut.

Seperti di Kampung Bukik Parik dan Kenagarian Batu Kunyi Lumpo. Asap dari pembakaran kayu untuk memasak Lemang, masih terlihat mengepul di Halaman rumah warga.

Canda dan tawa ibu-ibu yang bersenda gurau juga terdengar ramai sembari sesekali membetulkan posisi lemangnya yang tengah di panggang diatas tungku.

“Tak seramai dulu nak. Waktu dulu Seluruh rumah pasti memasak lemang. Setelah masak, langsung makan bersama dengan keluarga dan terutama para laki-laki yang baru pulang dari ladang,” Ujar Tek Rina (54) warga Kampung Bukit Parik.

Menurutnya tradisi malamang semenjak dahulu selalu dilaksanakan di Kenagarian Lumpo. Dan selalu dilaksanakan satu hari menjelang perayaan hari besar Islam.

Ia pun mulai bercerita tentang proses pemasakan lemang dan tradisi yang sudah menjadi kebiasaan turun temurun di negeri tersebut.

Dimulai dari pagi hari, dengan mempersiapkan bahan-bahan seperti ketan, santan dan bambu sebagai tempat memanggang lemang.

Setelah ketan disiapkan, lalu dimasukkan kedalam bambu yang sebelumnya dilapisi dengan daun pisang bagian dalam.

Sembari menunggu, kayu api pun dibakar dengan tungku tempat menyandarkan lemang agar mudah diatur posisinya.

Proses pembakaran ini lah yang memakan waktu 4-5 jam dan dimanfaatkan bagi para kaum hawa sembari bersilaturahmi dengan masyarakat.

Biasanya, waktu lemang masak dan siap disajikan bertepatan dengan pulangnya kaum laki-laki dari ladang. Lemang tersebut pun dimakan bersama-sama sembari bersenda gurau dengan keluarga dan tetangga.

“Kami hanya berharap tradisi ini tetap dipertahankan. Karena jika nanti kami yang tua-tua ini sudah tidak ada, tradisi malamang ini hanya akan tinggal cerita seperti sekarang ini,” Harapnya.

Tidak hanya di Kenagarian Lumpo, di sejumlah daerah lainnya di Pesisir Selatan, masih melakukan tradisi malamang menjelang perayaan hari raya Besar.

 

Namun, sepanjang kemajuan zaman, tradisi ini mulai tergerus dan mulai ditinggalkan. Generasi seakan malas berpanas-panasan dengan bara api dari kayu bakar, bahkan terkesan takut terkena asap dari sisa pembakaran.

 

Padahal, tradisi melamang tidak hanya sekedar proses memasak Lamang, namun ada silaturahmi dan kebersamaan antar warga yang terkandung didalamnya.

 

Dimana pada zaman dulu belum ada Gadget untuk berkomunikasi seperti yang dimiliki oleh para generasi mileneal saat ini.

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2019 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube