Headline News

header-int

Ilyas Yacoub - Pahlawan dari Pasisia

Posted by : Administrator

Digul, adalah nama sebuah tempat di Irian Jaya (sekarang Papua) yang dijadikan sebagai penjara atau lokasi pembuangan para tokoh-tokoh politik yang dianggap melawan pemerintah kolonial Belanda. Digulist merupakan sebutan untuk para tahanan yang telah lama menjalani masa pembuangan. Kesan mengerikan yang lekat dengan Digul rupanya tidak membuat para pejuang jera apalagi sampai kehilangan semangat juangnya. 

Salah satunya ialah H. Ilyas Yacoub. Sebagai seorang Lihat Daftar Aktivis 
Aktivis politik ia dibuang ke Digul pada tahun 1935. Ketika kekuasaan beralih ke tangan pemerintah Jepang, para tahanan dipindahkan ke Australia. Mereka baru dikembalikan ke tanah air saat kemerdekaan diproklamirkan. 

Namun, pembebasan tersebut rupanya tidak dialami oleh Ilyas Yacoub dan keluarganya beserta para tawanan lain. Mereka tetap menjalani masa penawanan di Pulau Semanu, dekat Kupang. Ilyas baru dibebaskan oleh tentara Belanda pada Juli 1946, setelah mengalami pemindahan ke sejumlah tempat seperti Labuhan (Brunei). 

Ilyas Yacoub dilahirkan di Asamkumbang, Painan, Sumatera Barat pada tahun 1903. Ia menempuh pendidikan di sekolah Belanda di kota kelahirannya, pada tahun 1925 dan pada 1929 ia bertolak menuju Kairo, Mesir untuk mengambil kuliah di Universitas Al Azhar. Semasa berkuliah di sana, waktunya tidak hanya tersita untuk belajar, tapi sebagian besar ia habiskan untuk kegiatan berpolitik. 

Ilyas bergabung dalam organisasi Al Jamiah Al Khairiyah Al Jawah dan sempat menjabat sebagai sekretaris organisasi itu. Atas sumbang saran darinya, organisasi itupun menerbitkan majalah bernama Seruan Azhar. Di majalah itu ia duduk sebagai ketua redaksi. Majalah Seruan Azhar kerap melontarkan kritik-kritik terhadap sepak terjang pemerintah kolonial Belanda di Indonesia. 

Bersama sang kolega, Mukhtar Luthfi, ia kembali menerbitkan majalah bernama Pilihan Timur, yang berisikan tulisan-tulisan yang jauh lebih keras daripada majalah Seruan Azhar. 

Ilyas menganjurkan agar di Indonesia dibentuk Majelis Rakyat untuk mengimbangi Volksraad (Dewan Rakyat) bentukan pemerintah Belanda. Hal itu dimuat dalam salah satu tulisannya di majalah Pilihan Timur. Akibatnya, majalah "Pilihan Timur" dilarang terbit, bahkan ia mesti angkat kaki dari Mesir. Setelah diusir dari Mesir, ia pun pulang ke tanah air. 

Setibanya di Tanah Air, setiap gerak-geriknya selalu diawasi oleh pemerintah kolonial Belanda. Meskipun merasa diawasi, ia tetap bersemangat melakukan perlawanan. Ia mendirikan Partai Muslimin Indonesia (Permi) tahun 1930 di Padang. Karena tekanan Belanda pada dekade 30-an, berjuang lewat organisasi merupakan langkah yang sangat berisiko. 

Akan tetapi, Ilyas tetap bersemangat meneruskan langkah perjuangannya walau tekanan dan intimidasi pemerintah kolonial senantiasa terus menghantuinya. Landasan perjuangan Permi yaitu Islam dan Kebangsaan Indonesia dijadikan sebagai dasar aktivitas organisasinya. Dalam kepengurusan partai yang baru dibentuknya itu, ia dipercayakan menduduki posisi Ketua Muda kemudian menjabat sebagai Ketua Departemen Permi. 

Lewat wadah partai politik hasil bentukannya itulah ia mempropagandakan perjuangan untuk mencapai kemerdekaan dalam berbagai kesempatan di berbagai daerah bahkan di luar Sumatera Barat. Kegiatannya tersebut tentu saja sangat mengganggu pemerintah kolonial, oleh karena itu tak jarang pidato-pidatonya sering dihentikan oleh Belanda. Itulah yang melatarbelakangi bagaimana ia bisa sampai dibuang ke Digul, Irian Jaya. 

Namun, sebagai seorang pejuang sejati, penjara dan pembuangan tak mematahkan semangatnya sedikit pun. Justru dalam masa pembuangan, tekad dan tujuan perjuangannya dimurnikan. Perjuangan bukan untuk pamrih pribadi, tetapi untuk saudara-saudaranya sebangsa dan setanah air. 

Di tahun-tahun awal Indonesia hidup di alam kemerdekaan, ia diangkat menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera Tengah (DPRST) dan koordinator partai-partai politik se Sumatera Tengah. Ia pernah menolak ketika namanya diusulkan untuk mengisi posisi Gubernur Sumatera Tengah. 
 
 
Ilyas Yacoub tutup usia pada 2 Agustus 1958. Jenazahnya dimakamkan di desa Kapencong, antara kampung kelahirannya Asamkumbang dan kampung isterinya Koto Berapak. 

Atas jasa-jasanya pada negara, H. Ilyas Yacoub diberi gelar Lihat Daftar Pahlawan Nasional 
pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 074/TK/Tahun 1999, tanggal 13 Agustus 1999

Sumber:
http://www.tokohindonesia.com

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2018 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube