PESISIR SELATAN -- Pertukaran pengetahuan antara Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, dan Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, membuka peluang pengembangan metode pertanian yang lebih adaptif dan ramah lingkungan.
Salah satunya melalui penerapan Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT) atau yang di Nagari Sungai Gayo Lumpo, Kecamatan IV Jurai, dikenal dengan Sawah Pokok Murah (SPM).
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pesisir Selatan, Hamdi, mengatakan pengembangan MTOT/SPM tidak hanya ditujukan untuk menekan biaya produksi, tetapi juga mengoptimalkan pemanfaatan lahan melalui peningkatan indeks pertanaman. Menurutnya, metode tersebut relevan dikembangkan terutama pada lahan yang mengalami kendala irigasi maupun sawah tadah hujan.
"Potensi yang ada masih dapat terus dioptimalkan melalui peningkatan produktivitas dan indeks pertanaman," kata Hamdi ketika dihubungi, Senin (24/8).
Ia menjelaskan, indeks pertanaman di Kabupaten Pesisir Selatan saat ini berada di angka sekitar 1,8. Dengan luas lahan sawah sekitar 22.000 hektare, daerah itu mampu menghasilkan sekitar 170.000 ton gabah kering per tahun dan surplus beras sekitar 50.000 ton.
Hamdi menilai penerapan MTOT/SPM dapat menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan pemanfaatan lahan, dengan target dua hingga tiga kali tanam dalam setahun pada lahan yang memungkinkan.
Pertukaran pengetahuan tersebut berlangsung selama tiga hari, 11-13 Agustus 2026 lalu. Pada hari kedua, delegasi Pemerintah Kabupaten TTU mengikuti pembelajaran langsung penerapan MTOT/SPM di lahan pertanian Nagari Sungai Gayo Lumpo.
Dalam kegiatan itu, delegasi TTU tidak hanya melihat praktik budidaya, tetapi juga berdiskusi langsung dengan petani pendamping Field-UBI, Asmarmon dan Darmini, mengenai tahapan penerapan metode tersebut.
Pembelajaran lapangan itu juga memperlihatkan bahwa inovasi pertanian tidak harus diterapkan secara sama di setiap daerah. Prinsip dan manfaatnya dapat dipelajari, kemudian disesuaikan dengan kondisi lahan, lingkungan, kemampuan petani, serta kebutuhan masyarakat setempat.
Kepala BPP Kecamatan IV Jurai, Oktavian, mengatakan MTOT/SPM juga memiliki nilai penting dalam mendorong pertanian yang lebih ramah lingkungan. Metode tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kesehatan tanah dan mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pestisida secara berlebihan.
Sementara itu, petani pendamping Field-UBI, Darmini, membagikan pengalaman penerapan MTOT, termasuk pemanfaatan bahan-bahan yang tersedia di sekitar untuk mendukung budidaya. Ia juga memperagakan pembuatan pestisida nabati berbahan sederhana seperti air beras fermentasi, bawang putih, dan cabai rawit.
"Yang penting mau," ujar Darmini, menggambarkan bahwa inovasi pertanian dapat tumbuh dari keberanian petani untuk mencoba dan membuktikan manfaatnya di lapangan.
Dalam pertukaran tersebut, Kabupaten TTU telah menyiapkan tiga lokasi sebagai tahap awal penerapan MTOT yang nantinya disesuaikan dengan karakteristik wilayah setempat. Langkah itu diharapkan membuat proses pertukaran pengetahuan tidak berhenti pada diskusi, tetapi berlanjut menjadi praktik dan pengembangan di daerah masing-masing.
Selain mempelajari MTOT/SPM dari Pesisir Selatan, delegasi TTU juga membawa pengalaman daerahnya untuk dipelajari Pesisir Selatan, termasuk pengembangan Eco-Enzyme. Pertukaran tersebut melibatkan Pemerintah Kabupaten TTU, GIZ-SDGs SSTC, Sekretariat SDGs Pesisir Selatan, Bapperida, LP2M, pemerintah nagari, KWT, serta petani Nagari Sungai Gayo Lumpo.
Melalui kegiatan itu, kedua daerah mendorong pola kerja sama yang menempatkan pengalaman masyarakat dan praktik baik di lapangan sebagai sumber pembelajaran bersama untuk memperkuat pembangunan pertanian yang sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah.

Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.