Headline News

header-int

Painan Kebanjiran, Air dari Hulu ke Mana ?

Sabtu, 10 Oktober 2026, 15:41:47 WIB - 137 | Kontributor : Jordi L Maulana, S.STP
Painan Kebanjiran, Air dari Hulu ke Mana ?

Oleh : Suyatmono, S.Si (*)

 

Ada satu persoalan mendasar yang perlu mendapat perhatian dalam penanganan banjir di Kota Painan. Kota ini tumbuh di antara perbukitan, kawasan permukiman, dan dataran pesisir. Ketika hujan deras turun, air dari lereng mengalir menuju kawasan yang lebih rendah. Pada saat yang sama, hujan juga membebani saluran di dalam kota. Ketika air sudah terkumpul, persoalan berikutnya adalah apakah sungai dan muara mampu membuangnya ke laut, terutama jika bertepatan dengan pasang. Kejadian ini berulang terjadi, terakhir di Jumat, 9 Oktober 2026. Rawang Painan, Bundaran Tugu Ilyas Yakub, dan beberapa tempat lainnya. Lihat di beberapa Facebook dan Tiktok.

 

Dalam kondisi seperti ini, banjir tidak bisa dipandang semata-mata sebagai persoalan saluran yang sempit atau kurang dalam. Banjir merupakan persoalan hubungan antara bentang alam, daerah tangkapan air, jaringan drainase, sungai, dan kondisi muara. Jika hubungan tersebut tidak direncanakan sebagai satu sistem, perbaikan di satu tempat justru dapat memindahkan masalah ke tempat lain.

 

Bayangkan air hujan dari perbukitan terus mengalir menuju pusat kota. Di sepanjang kaki bukit, dibangun saluran untuk mengumpulkan limpasan. Namun, air yang sudah terkumpul itu tetap diarahkan mengikuti alur lama menuju kawasan perkotaan. Sementara itu, saluran dalam kota belum tertata dengan baik. Arah aliran belum terintegrasi, elevasi dasar saluran belum terhubung secara konsisten, kapasitasnya belum teruji, dan sebagian saluran mungkin berakhir pada outlet yang tidak mampu menampung debit tambahan.

 

Dalam keadaan demikian, membangun saluran pencegat di bawah bukit belum tentu menyelesaikan masalah. Jika air hanya dikumpulkan lalu dialirkan kembali ke kota, debit yang masuk bahkan dapat menjadi lebih terkonsentrasi. Aliran yang sebelumnya menyebar melalui beberapa jalur berubah menjadi arus yang lebih besar pada satu koridor. Akibatnya, genangan dapat meningkat, gerusan dapat terjadi, dan tekanan terhadap saluran di bagian hilir menjadi lebih berat.

 

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan sekadar bagaimana mempercepat air mengalir dari bukit menuju kota, melainkan bagaimana mencegah limpasan dari perbukitan membebani sistem drainase perkotaan yang kapasitasnya belum memadai.

 

Painan memerlukan pemisahan sistem aliran berdasarkan sumber airnya. Air yang berasal dari perbukitan perlu ditangani melalui sistem pengendalian limpasan hulu. Air hujan yang jatuh di kawasan perkotaan perlu ditangani melalui jaringan drainase kota. Keduanya memiliki karakteristik dan kebutuhan penanganan yang berbeda. Jika dapat dipisahkan secara aman, beban saluran perkotaan akan berkurang karena tidak lagi harus menampung seluruh limpasan dari lereng di sekitarnya.

 

Salah satu pilihan yang layak dikaji adalah membangun saluran pencegat pada koridor yang sesuai di bawah perbukitan. Saluran ini menangkap limpasan sebelum memasuki kawasan permukiman padat, kemudian mengarahkannya menuju sungai penerima yang dinilai mampu menampung tambahan debit. Dengan pendekatan ini, air dari hulu tidak otomatis masuk ke jaringan drainase kota.Ini yang paling penting, kalau masuk ke jaringn drainase kota justru  akan memperbarah di bagian hilir dan titik titik penyempitan saluran eksisting.

 

Namun, pengalihan air tidak boleh dilakukan hanya karena ada sungai yang terlihat paling dekat. Sungai penerima harus diperiksa kapasitasnya, kondisi penampangnya, elevasi pertemuannya dengan saluran, serta keadaan wilayah di sepanjang alirannya. Sungai yang tampak cukup besar pada hari biasa bisa saja meluap ketika hujan deras terjadi bersamaan di seluruh daerah tangkapannya. Tambahan debit dari saluran pencegat justru dapat memperparah banjir di wilayah lain.

 

Jika tidak tersedia sungai penerima yang aman, pilihan lain perlu dipertimbangkan. Limpasan dapat dikurangi melalui konservasi tanah dan air, ditahan sementara melalui kolam detensi pada lokasi yang sesuai, atau dialihkan melalui koridor lain yang secara teknis memungkinkan. Keputusan harus didasarkan pada perhitungan hidrologi, bukan semata-mata pertimbangan jarak dan kemudahan pembangunan. Evaluasi keberhasilan proyek desain dan pekerjaan drainase harus lebih ditekankan pada penyelesaian masalah bukan sekedar volume yang terpasang sudah sesuai kontrak.

 

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kondisi perbukitan itu sendiri. Saluran yang dibuat terlalu curam dapat mempercepat aliran dan meningkatkan risiko gerusan. Pekerjaan yang memotong lereng tanpa kajian geoteknik dapat memicu ketidakstabilan tanah. Air yang dibuang langsung ke lereng tanpa perlindungan juga berpotensi membentuk alur erosi baru. Artinya, pengendalian banjir harus dirancang bersamaan dengan pengendalian sedimen dan pencegahan longsor.

 

Di sisi lain, pemisahan limpasan dari perbukitan bukan alasan untuk mengabaikan drainase di pusat kota. Hujan yang jatuh di jalan, atap bangunan, halaman, pasar, dan kawasan permukiman tetap membutuhkan jalur pembuangan yang jelas. Setiap saluran harus memiliki arah aliran, elevasi, dimensi, dan titik pembuangan yang saling terhubung. Tidak ada gunanya memperbesar saluran lingkungan jika saluran penerimanya lebih kecil, tersumbat, atau berakhir pada muara yang tidak mampu mengalirkan air.

 

Kondisi pesisir juga perlu diperhitungkan. Pada saat muka air laut tinggi, pembuangan secara gravitasi dapat melambat atau terhenti, bergantung pada elevasi dan konfigurasi outlet. Karena itu, kapasitas saluran tidak cukup dinilai berdasarkan besarnya debit dari hulu. Kemampuan membuang air di bagian hilir harus menjadi bagian dari perhitungan yang sama.

 

Langkah pertama seharusnya bukan langsung memperbanyak proyek pelebaran saluran. Yang lebih mendesak adalah memetakan jalur air dari perbukitan, mengidentifikasi sungai penerima yang memungkinkan, mengukur elevasi kawasan, serta mendata jaringan drainase dan titik genangan. Data tersebut kemudian digunakan untuk membandingkan kondisi banjir saat ini dengan skenario setelah limpasan hulu dipisahkan dari sistem perkotaan.

 

Pekerjaan darurat seperti membersihkan sumbatan, memperbaiki gorong-gorong yang rusak, dan mengamankan titik rawan longsor tetap dapat dilakukan segera. Namun, pembangunan saluran pencegat, pengalihan alur, atau peningkatan kapasitas sungai harus menunggu hasil kajian yang memadai. Jangan sampai proyek yang dimaksudkan mengatasi banjir justru mempercepat datangnya air ke kawasan yang belum siap menerimanya.

 

Pada akhirnya, penanganan banjir Painan membutuhkan perubahan cara pandang. Air tidak cukup sekadar dibuang secepat mungkin. Air harus dikelola sejak berasal dari lereng, ketika memasuki kawasan perkotaan, hingga mencapai sungai dan laut. Setiap bagian dari sistem harus bekerja tanpa memindahkan risiko kepada kawasan lain.

 

Banjir Painan tidak akan selesai hanya dengan memperbesar saluran. Yang harus dibenahi adalah arah perjalanan air dari hulu hingga hilir. Jika limpasan perbukitan dapat dialihkan secara aman, drainase kota ditata berdasarkan elevasi dan kapasitas, serta sungai dan muara dipastikan mampu menerima aliran, risiko banjir dapat dikurangi secara lebih terukur.

 

Sebab, inti persoalannya bukan sekadar berapa banyak air yang harus dialirkan, melainkan dari mana air itu datang, ke mana seharusnya mengalir, dan apakah jalur yang dipilih benar-benar aman bagi Kota Painan dan masyarakat di sekitarnya. / 10-10-2026

 

* Penulis adalah ASN Perencana, lulusan program studi Hidrologi UGM, Alumni Pusdiklat–PU Perencanaan Teknis Drainase Perkotaan, Kabid Riset dan Inovasi Daerah, Bapperida Kab. Pesisir Selatan.

 

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2026 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube