Headline News

header-int

Tante Mince

Senin, 07 Januari 2019, 21:53:35 WIB - 524 | Kontributor : Ir. Erizon, M.T

Berkacamata hitam bermerek luar negeri. Wajahnya masih cantik diusianya menjelang 45 tahun. Lesung pipit di kedua pipinya, menambah daya tarik setiap kaum lelaki yang memadangnya. Kulitnya putih bersih. Tinggi semampai. Rambutnya yang sebahu terurai lepas. Berbaju longgar, memakai celana katun, bersepatu tinggi vantonel model anak muda zaman now. Berjalan gontai menuju sudut sebelah kanan kolam renang, dekat sebuah pohon palem. Tempat duduknya favorit, dikala pikirannya suntuk di kamar apartemennya atau selepas pulang dari kantor.

Dia menikmati waktu istirahatnya setelah seharian bergelut dengan surat surat dan angka angka, sebagai seorang sekretaris perusahaan multinasional. Badannya dia sandarkan pada sebuah kursi malas, di tepi kolam renang yang luas. Kadang kakinya dia jatuhkan ke lantai, sesekali ia naikkan kembali. Orang orang di apartemen Kemang, tempat tinggalnya, memangil : Tante Mince.

Dia tak peduli dengan siapa pun yang lewat. Dia sangat bangga dengan diri dan karirnya. Banyak pria yang ingin mendekatinya, tapi hampir tak ada yang berhasil menarik hatinya. Beberapa kawan di kantornya banyak yang terheran heran dengan sikapnya yang acuh terhadap pria. Lelaki yang berhasil menaklukkannya hanyalah para pria barat yang kebetulan bekerja di Jakarta. Menurut pikiran Mince, Pria Indonesia terlalu mengutamakan perasaan dalam menjalin hubungan dengan wanita, bahkan kadang sangat ego dalam bercinta. Sedangkan pria barat sangat logika, dan juga lebih mengedepankan wanita dalam bercinta. Kesan itulah yang hingga kini dipahami Mince.

Karena dia berkacamata hitam, sehingga orang orang yang senyum kepadanya tidak bisa membedakan, apakah Mince sedang tidur atau memandang langit. Tak jelas. Namun beberapa lelaki yang lewat di pinggiran kolam renang tetap saja meliriknya dengan senyum, walau tak berbalas. Ia begitu menikmati istirahatnya. Mince sedang menunggu seseorang. Dia tertidur dalam lamunannya.

Sore itu, para tetangganya, sesama penghuni apartemen berenang dan berjemur. Kebanyakan mereka bersama anak anaknya. Apatemennya yang mewah tentu saja didiami oleh orang orang yang kaya, seperti Mince. Harga Apartemen seluas 36 meter persegi dengan 2 kamar tidur berkisar di atas Rp. 2,5 Milyar, termasuk harga yang tertinggi di Jakarta. Belum lagi interiornya yang mewah dan berada di kawasan Kemang. Dijaga dengan sangat ketat dan tidak bisa dimasuki oleh semua orang. Jangankan untuk menjadi warga apartemen yang banyak syarat, terutama dari besar pendapatan, untuk masuk saja sudah dibatasi. Hanya orang orang yang sudah membuat janjian terlebih dulu dengan penghuni, yang diizinkan masuk oleh Satpam.

Mince tinggal di lantai 11. Apartemennya berkamar 2 dan satu ruang tamu yang menghadap ke arah Perkampungan Kemang yang sederhana. Satu kamar tidur buat Mince dan pria yang diakuinya sebagai suaminya, dan satu lagi buat kucing kucing kesayangannya.

Sehari-hari Mince lebih banyak ditemani dua ekor kucing. Kucing yang cantik cantik. Satu ekor jenis kucing persia berwarna hitam dengan badannya yang montok, dan sifat kucingnya yang sangat penyayang, sehingga Mince merasa dekat dengan kucing ini.

Satu lagi jenis Exotic Shorthair berwarna hitam putih bergaris kuning, jenis kucing yang suka dielus-elus. Sambil duduk santai menonton televisi biasanya tangan kanan Mince mengelus ngelus kucing ini. Makanan kucingnya sangat mahal karena selalu dibelikannya makanan yang berkualitas seperti Roya Canin atau Whiskas. Harganya jauh lebih mahal dari gaji pembantu Mince.

Mince tidak memiliki anak. Suaminya jarang di Indonesia. Suaminya seorang ekspatriat keturunan Ingris yang bekerja di perusahaan keuangan multinasional. Sekarang Suaminya sedang bertugas di Hongkong untuk waktu yang lama. Biasanya setiap bulan Mince datang ke Hongkong, atau suaminya ke Jakarta. Namun ini sudah cukup lama mereka tidak bertemu karena kesibukan masing masing.

Ketika mereka mengikatkan diri dalam hidup berkeluarga 5 tahun yang lalu, mereka sepakat untuk tidak memiliki anak. Dengan demikian, hingga kini Mince tetap sendiri. Dan kucinglah sebagai kawan tempat Mince berkeluh kesah.

Mince makin tahu bahasa kucing. Tiap hari, apalagi di waktu malam, Mince akan bercerita masa-masa lalunya dengan kedua kucingnya. Kucingnya mendengar cerita Mince dengan mengeong ngeong lambat. Namun, namanya kucing. Ya tetap kucing. Hanya bisa mengeong-ngeong. Bulu-bulu kucing sudah menjadi keseharian di sekitar . Dia sendiri juga sudah mulai batuk batuk, kadang gejala asma. Bisa jadi karena tanpa sadar ada bulu kucing yang terhirup oleh Mince, sehingga masuk ke dalam paru parunya.

Bahkan kadang di lain waktu, Mince bersikap juga menyerupai kucing. Mengeong, menggerakkan tangan seakan mencakar. Dan melompat lompat kegirangan jika Mince ingat dengan keindahan masa lalunya bersama Patric, suaminya yang pertama, yang sekarang sudah kembali ke Belanda.

“Boy,“ kata Mince kepada kucingnya di suatu malam, “aku dulu ketika masih muda, happy sekali. Patric sangat sayang kepadaku. Apa saja dibelikan Patric jika aku menginginkan sesuatu. Aku sering diajak ke luar negeri oleh Patric. Bahkan aku bersamanya pernah ke kepulauan Karibia, di Amerika selatan untuk berlibur. Juga pernah ke Maladewa di Samudera Hindia”.

“Ngeong, ngeong”, jawab si boy, kucingnya jenis Persia.

“Dan kalau ada yang tidak kusukai dari Patric, adalah penilainnya yang tak pernah baik terhadap pemerintah kita. Dia bilang, Pemerintah terlalu lalai dalam mensejahterakaan rakyat, dan sibuk dengan korupsi. Pemerintah juga sibuk cakar cakaran satu sama lain”

“Ngeong, ngeong,” sambut si Boy sambil mengibas-ngibaskan ekornya ke perut Mince.

“Ya betul, Suer boy, bahkan aku mau diajak ke Belanda untuk tinggal, ketika kontraknya berakhir di Indonesia. Tapi aku tak mau meninggalkan Indonesia yang indah dan damai ini. Bagaimana pun aku sangat mencintai Jakarta. Akhirnya kami berpisah dengan baik-baik. Aku diberi uang yang cukup untuk hidup. Dan sekarang Patric sudah menikah lagi dengan perempuan Belanda,”

“Ngeong-ngeong”, jawab kucing Exoticnya yang bermanja manja di atas paha Mince.

Tanpa terasa, malam makin larut. Si-boy tertidur dalam pangkuan tangan kiri Mince. Sedangkan kucing Exoticnya tertidur dalam pangkuan tangan sebelah kanannya.

Ketika fajar mulai menyisir pinggiran Jakarta, Si-Boy telah mengusap-ngusap matanya. Mengeong-ngeong sehingga membangunkan Mince. Bergegas Mince mempersiap diri untuk berangkat ke kantor, yang tak jauh dari Apartemennya.

Jika pagi datang, seorang perempuan setengah baya datang membantu berbagai hal yang dibutuhkan Mince. Pembantunya mengontrak di rumah penduduk, tak jauh dari apartemen Mince, di perkampungan Kemang, sekitar Jalan Kemang 2. Jalan Kemang 2 merupakan jalan buntu yang sengaja ditutup oleh pemilik apartemen, sehingga setiap hari pembantunya masuk melewati lorong-lorong, di bawah jembatan layang menuju Apartemen Kemang.

Tanpa terasa Mince tertidur lebih kurang 1 jam di Tepi Kolam Renang. Mince terbangun dari tidurnya. Beberapa orang yang berenang di kolam renang sudah mulai beranjak menuju kamar masing masing. Matahari telah jauh condong ke barat. Sinarnya mulai memerah, tanda sebentar lagi azan magrib akan berkumandang. Dia putar putar lehernya. Dia berdiri dan direntangkan kedua tangannya. Sebetulnya dia mau berenang, tapi takut yang ditunggu datang. Dia lihat jarum jam sudah menunjuk angka 17:45.

“Wah, kok Andre belum juga datang. Tadi janjinya jam 17:00. Macet kali ya,” katanya kepada dirinya sendiri.

Dia ingin sekali bertemu dengan Andre, teman kelasnya waktu di SMA dulu. Teman di mana dia pernah menyatakan cinta untuk pertama kali dalam hidupnya. Dan setelah itu, Mince tak pernah lagi jatuh cinta dengan pria pribumi. Namun dengan tak diduga dua hari yang lalu, mereka bertemu di Plaza-kemang dekat apartemennya. Setelah mereka makan bersama, dia berjanji akan bertemu pada hari ini di Tepian Kolam renang, apartemennya.

makanan yang bergizi, dan olah raga yang teratur, Mince kadang merasa memerlukan seorang lelaki untuk menutupi kebutuhan yang tak dapat dia hindari. Dan, hari ini dia sangat merindukan Andre, sahabat masa kecilnya. Dia sedang menunggu Andre yang belum juga datang. Namun dia tidak tahu, bahwa Andre memang tidak akan datang. Andre seorang pria yang alim dan sangat takut kepada Tuhannya.

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2019 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube