Pesisir Selatan, 4 Desember 2018--Mendirikan bangunan di pinggir sungai sangat beresiko terhadap keselamatan jiwa. Agar terhindar dari ancaman itu, maka kebiasaan yang masih terlihat dilakukan oleh sebagian warga tersebut agar mulai dihilangkan, termasuk juga di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel).
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Pessel, Doni Gusrizal kepada pesisirselatan.go.id Selasa (4/12) di Painan.
Disampaikanya bahwa demi keselamatan warga, pihaknya mengaku sudah berkali-kali melakukan imbauan agar mematuhi larangan itu.
" Namun disayangkan, kecendrungan atau kebiasaan mendirikan bangunan disepanjang bantaran sungai ini, masih tetap sulit dihilangkan. Saya katakan sulit, sebab pada beberapa aliran sungai di daerah ini masih terlihat bangunan milik warga yang berdiri di pinggir sungai," katanya.
Dia menjelaskan bahwa di daerah itu, rata-rata aliran sungainya cukup tajam. Sebab berhulu di sepanjang gugusan Bukit Barisan (BB) Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
Karena aliran yang cukup tajam serta juga berbelok itu, maka dalam waktu singkat aliranya bisa meluap, terutama sekali ketika terjadi hujan di bagian hulu sungai.
Ditambahkan lagi bahwa di daerah itu rata-rata aliran sungainya cukup kritis. Bahkan beberapa ruas diantaranya butuh penanganan normalisasi.
" Sebagian besar ruas sungai di Pessel cukup kritis, Kondisi ini jelas mengancam keselamatan jiwa warga. Untuk penanganan aliran sungai yang kritis itu, setidaknya dibutuhkan biaya sebesar Rp 200 miliar. Sebab aliran sungai yang kritis ini tersebar di 19 batang aliran sungai, dan melewati 15 kecamatan yang ada," ujarnya.
Menyangkut kondisi cuaca tidak menentu sebagai mana saat ini, dia berharap agar disikapi masyarakat secara siaga. Hal itu disampaikan karena Pessel memiliki sembilan belas (19) aliran sungai dengan 11 pintu muara. Rata-rata aliran sungai itu memiliki potensi sebagai pengirim banjir.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pessel, Herman Budiarto ketika dihubungi mengakui bahwa ancaman banjir yang ditimbulkan oleh luapan sungai, sangat berpotensi terjadi di daerah itu.
Apa lagi rata-rata aliran sungainya cukup tajam karena memiliki kemiringan cukup tinggi, disamping juga telah terjadi pendangkalan dan belokan di beberapa titik.
" Bila ditotal jumlah penduduk yang terancam keselamatanya akibat luapan sungai di Pessel, mencapai 16 ribu kepala keluarga. Mereka yang terancam ini adalah yang mendirikan bangunan disepanjang bantaran sungai," katanya.
Agar kebiasaan mendirikan bangunan disepanjang bantaran sungai ini bisa dihilangkan, sehingga BPBD Pessel bersama pihak terkait lainya terus melakukan imbauan dan sosialisasi.
" Kita bersama pihak terkait lainya, termasuk juga pemerintahan nagari, terus menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak lagi mendirikan bangunan baru di sepanjang bantaran sungai. Sedangkan bagi yang sudah terlanjur, kita sarankan untuk pindah, disamping juga terus meningkatkan kewaspadaan, terutama sekali ketika musim hujan seperti saat ini," timpalnya. (05)

Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.