Sumatera kembali ditimpa kabar duka. Bukan pertama, dan ironisnya kita khawatir bukan yang terakhir. Hujan lebat beberapa hari lalu memicu banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah wilayah. Rumah terendam, akses transportasi lumpuh, bahan pokok tersendat, dan batang-batang kayu gelondongan hanyut seperti tombak raksasa yang menyertainya. Ini bukan lagi sekadar bencana yang datang dari langit. Ini alarm yang datang dari hulu.
Banyak yang bertanya, “Ini bencana alam atau ulah manusia?” Padahal, pertanyaan itu sendiri sudah menyimpan jawabannya. Jika banjir terjadi di daerah dengan ekosistem yang masih sehat, air cenderung meluap perlahan bukan menghantam. Jika longsor terjadi di kawasan yang masih rimbun, tanah memiliki “pegangan” bukan “tergelincir.” Namun yang terjadi justru sebaliknya: air turun deras dari perbukitan yang gundul, menyerbu sungai yang menyempit, lalu meledak ke pemukiman dengan kekuatan berlipat.
Mari pahami dua istilah penting. Bencana alam adalah peristiwa yang murni digerakkan proses bumi gempa, erupsi, atau badai, yang tetap terjadi meski manusia tak hadir di sekitarnya. Sedangkan bencana ekologi adalah drama yang skenarionya disusun tali-temali kerusakan alam: hutan hilang, tanah rapuh, sungai tak lagi “bernafas,” dan ruang resap air mati. Ketika cuaca ekstrem datang, panggung yang sudah rusak inilah yang membuat bencana tampak jauh lebih kejam dari seharusnya.
Di sinilah hutan seharusnya menjadi tokoh penyelamat bukan figuran yang lenyap di babak awal. Secara ekologis, hutan berfungsi sebagai pengatur tata air. Tajuk pohon memecah derasnya hujan, serasah daun menyerap dan menahan limpasan air, sedangkan akar membentuk anyaman kuat di bawah tanah. Ia bekerja seperti tameng berlapis yang fleksibel: menyimpan air ketika surplus, melepasnya ketika perlu, dan menahan tanah ketika gravitasi mencoba merayunya jatuh.
Namun kini, hutan di banyak sisi Sumatera telah kehilangan kemampuan itu. Lahan-lahan yang dahulu menjadi kawasan tangkapan air berubah fungsi menjadi area komersial dan pertanian skala besar. Perkebunan monokultur seperti sawit dan akasia memang berkontribusi pada ekonomi lokal, membuka lapangan pekerjaan, dan menggerakkan rantai perdagangan. Namun secara ekologis, mereka tidak bisa menggantikan kompleksitas kerja hutan alami. Di hutan primer, fungsi hidrologi disangga keragaman vegetasi. Di lahan monokultur, tugas itu dikerjakan sendirian dan sering kewalahan, karena struktur tanah dan sistem akar tidak “serumit” hutan yang dulu berdiri di sana.
Selain alih fungsi lahan, aktivitas penebangan liar juga menjadi isu yang terus menghantui. Gelondongan kayu yang hanyut saat banjir bukan hanya berbahaya secara fisik, tetapi juga simbol: “pegangan” tanah di hulu sudah hilang, dan sisa-sisanya kini terlempar ke hilir sebagai bagian dari bencana itu sendiri.
Perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi dan intensitas hujan ekstrem memang berperan sebagai pemicu. Tetapi pemicu hanya menyalakan api; bahan bakarnya sudah lama disiapkan oleh kerusakan ekologis. Curah hujan tinggi bukan masalah baru bagi Sumatera yang memang berkarakter tropis basah tetapi dampak destruktifnya terasa berbeda saat fungsi lingkungan menurun drastis.
Ketika kawasan hulu kehilangan tutupan vegetasi, siklus air berubah dari dialog menjadi monolog. Air tidak lagi diberi “waktu singgah” ke tanah ia langsung lari ke sungai. Sungai yang idealnya memiliki bantaran dan ruang limpasan kini banyak yang mengecil, menyempit, atau dangkal akibat sedimentasi. Tanah yang kehilangan akar menjadi butiran halus yang mudah luruh ketika diguncang air. Kombinasi ini menciptakan efek domino: erosi di hulu, lonjakan debit di aliran tengah, dan bencana di hilir.
Mitigasi yang dilakukan Pemerintah Daerah dan Pusat memang patut diapresiasi: bantuan darurat digulirkan, evakuasi bergerak cepat, alat berat dikerahkan, relawan disiagakan, dan logistik dibagikan. Tetapi mari jujur bicara: semua itu adalah respon di hilir, ketika kejadian sudah terlanjur mendarat. Ia penting, tetapi tidak cukup.
Jika hulunya masih “bocor,” hilirnya akan selalu “kebanjiran.” Maka strategi jangka panjang harus berani naik ke hulu: restorasi Kawasan Tangkapan Air, rehabilitasi Daerah Aliran Sungai, reforestasi lahan kritis, pengawasan tegas terhadap pembukaan lahan ilegal, serta sinergi program lingkungan dengan desa-desa penyangga ekosistem.
Beberapa langkah berbasis alam seperti penanaman pohon di DAS, pengendalian tutupan lahan, serta pendidikan kesiapsiagaan ekologis sudah mulai digerakkan oleh beberapa wilayah pemda di Sumatera melalui kolaborasi lintas sektor. Ini adalah arah yang benar: bukan melawan banjir tetapi mengembalikan sistem agar banjir tak perlu dilawan dengan risiko besar.
Dan tugas kita sebagai masyarakat? Sama besarnya. Tidak ada teknologi yang bisa menggantikan fungsi hutan sebaik hutan itu sendiri. Tidak ada tanggul yang lebih kuat dari akar yang terjalin rapat. Karena itu, merawat lingkungan bukan kegiatan seremonial, tetapi investasi keselamatan.
Di sekolah-sekolah, kampus, hingga forum warga, literasi ekologi harus semakin sering dibicarakan. Di ruang kebijakan, dampak lingkungan harus dihitung seteliti hitungan ekonomi. Di lapangan, izin usaha harus diawasi seketat pengawasan APBD. Karena krisis ekologis jarang meledak seketika, tetapi dampaknya selalu kolektif ketika ia akhirnya pecah.
Jadi, ini bencana alam atau bencana ekologi? Ia bencana alam yang membesar karena ekologi yang mengecil. Ia peringatan dari semesta yang sederhana pesannya, tetapi berat konsekuensinya: ketika hutan berhenti menyerap, maka manusia yang dipaksa menanggung limpasan.
Sumatera ingin pulih. Bukan dengan slogan, tetapi dengan langkah. Bukan dengan sensasi, tetapi dengan restorasi. Karena di pulau ini, keselamatan jutaan penduduk sesungguhnya dimulai dari hulu yang sehat, sungai yang lapang, dan hutan yang kembali diberi ruang untuk bekerja sebagai spons, tameng, dan masa depan.

Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.