Headline News

header-int

Cerita Pendek : Mami..! Papi Sibuk....

Senin, 18 Feb 2019, 06:34:41 WIB - 463 | Kontributor : Ir. Erizon, M.T

Pagi-pagi dia sudah siap siap berangkat ke kantor. Dia mandi paling duluan dalam keluarganya. Karena Kamar Mandi Cuma ada satu, dia harus bangun pagi agar mandi paling duluan. Bahkan Mertua lelakinya mengalah, demi mantu yang dibanggakan: orang kantoran.

Pakaiannya rapi dan bersih. Bekas strika masih membekas jelas, dengan sanding yang tegak. Rambut mengkilat karena disisir dengan apik dan berminyak tanco keluaran terbaru. Di depan kaca dia sering agak lama. Meyisir sambil memantik mantik rambutnya. Sisir rambutnya belah tengah agak tegak. Sepatu kulit hitam mengkilat, bermerek Bally, kw keluaran Cibaduyut. Tas-nya berisi berbagai macam dokumen dan kertas, terlihat penuh. Dijinjingnya dengan gaya stelan pegawai yang super sibuk. Motor kebanggaannya segera dihidupkan. Mesinnya dipanaskan sejenak.

“Mami..., papi sibuk sekali hari ini. Kadis minta pekerjaan harus selesai hari ini juga. Makanya papi harus pagi pagi berangkat”, sambil dia menaiki motornya.

Kalimat yang hampir setiap pagi disampaikan Harun kepada istrinya. Kadang kadang isterinya juga sudah jemu dengan kalimat tersebut. Tapi karena sudah terlanjur bangga dengan pekerjaan suaminya sebagai pegawai negeri. Dia senyum saja mendengarnya. Apalagi di antara kakak beradik, hanya dia yang bersuami pegawai negeri.

“Ya Pi. Kerja apa itu pi”, jawab istrinya ingin tahu.

“ Ya desain, proposal proyek, yang nilainya milyaran. Papi dikasih pekerjaan yang banyak oleh Pak Kadis. Pokoknya jika pekerjaan beres, nanti mami, papi belikan baju baru, ha ha ha” terang Harun sambil ketawa.

“Ya lah Pi. Selamat jalan”,

“Papi..., minta duit jajan”, tiba tiba anak perempuannya menjerit dari dalam rumah.

“Minta sama mami ya”, dia langsung tancap gas.

Istrinya sudah berulangkali mengeluh, jika jual beli lontong dan makanan lainnya akhir-akhir ini sangat berkurang, sehingga sering dia tidak punya uang lagi di pagi hari. Memang harga-harga kebutuhan pokok meningkat. Beras mahal, telur juga mahal, bahkan harga sabun pun ikut naik. Barangkali itulah salah satu penyebab para tetangganya tidak banyak lagi yang berbelanja lontong di pagi hari. Padahal biasanya cukup ramai sehingga dapat menutupi belanja anak-anak, bahkan kadang kadang suaminya juga minta tambahan uang untuk beli bensin motornya.

Pada tanggal tanggal tua dia sering rugi, karena lontongnya hanya terjual beberapa ketupat saja. Pada hal setiap pagi selalu dia yang ditugaskan memberi uang jajan buat anak anaknya. Uang bulanan sebesar Rp. 3 juta rupiah yang diberikan suaminya sangat tidak cukup buat kebutuhan rumah tangganya.

“Pokoknya, cukupkan uang bulanan itu ya mi. Gengsi dong kalau papi tak ada uang jajan di kantor”, kata suaminya setiap tanggal 1 saat memberikan uang gaji. Dia tetap senyum, dan jarang mengeluh. Dia tetap bangga punya suami pegawai negeri, walau gaji yang diberikan tak pernah penuh setiap bulan. Harun selalu menghibur, dengan janji-janji uang proyeklah.

Karena selalu bergegas pergi ke kantor, jarang sekali dia minum pagi atau sarapan di rumah. Walau Istrinya menyediakan secangkir kopi, lontong sayur atau sepiring nasi dengan lauk pauk seadanya. Kopi sekedar di minum, seteguk, untuk penghibur istrinya. Namun sarapan yang dihidangkan, jarang dia sentuh kecuali bila pagi pagi hari hujan lebat.

Kadang istrinya berfikir juga, “Masak tiap hari sibuk. Apakah tak ada PNS yang bisa bekerja, kok semua pekerjaan diberikan pada suaminya. Tak adil pula Kepala Dinas tempat suaminya bekerja. Kerja suaminya banyak, tapi tak punya uang”.

Kalau suaminya pulang selalu dengan wajah letih, capek, dan beralasan sibuk dengan pekerjaan. Di lain waktu, bahkan suaminya minta dipijat segala.

Hidangan yang sudah diletakkan di meja makan, akan selalu jadi rebutan anak-anaknya ketika suaminya sudah berangkat. Biasanya anak anaknya dengan sabar menunggu papinya berangkat, sehingga makanan yang disiapkan ibunya untuk papinya menjadi sarapan pagi mereka.

Sementara kehidupan ekonomi keluarganya terasa sangat sulit. Apalagi semenjak anak paling besarnya sudah kelas 3 SMA, yang sebentar lagi akan kuliah. Nurjanah pinjam kiri kanan guna menutupi kekurangan tiap bulan. Hari Kamis dan Minggu Nurjanah berjualan makanan di pasar. Bahkan hingga sudah bekerja lebih 20 tahun, suaminya yang sarjana itu belum juga dapat promosi di kantornya.

“Papi ini, orang kepercayaan komandan lho mi. Semua pekerjaan kantor, papi yang mengerjakan. Mulai dari buat konsep mengetik, membuat surat jalan. Pokoknya, semuanya. Tak ada yang bisa pakai computer. Tak ada waktu main main, mi” sambungnya kepada Nurjanah.

Nurjanah bangga dengan Suaminya yang hebat itu. Dia kadang menceritakan sama emak dan ayahnya, kalau suaminya adalah orang yang rajin bekerja, pandai computer. Dipercayai atasannya. Orang terpandang. Mertuanya percaya melihat penampilannya. Apalagi Mertuanya melihat bukti kesibukan menantunya, yang perut menantunya mulai gendut dan gemuk. Baju dan celana menantunya sudah banyak yang tidak muat lagi, sehingga ada beberapa pakaian menantunya, seperti baju korpri dan baju hansip yang sudah dipakainya di rumah.

Bagi mertuanya kegendukan menantunya sebagai bukti orang sibuk dan hebat. Dia tidak tahu, menantunya gendut karena minum teh telur dan makan indomie rebus tiap pagi di kedai kantor.

Jam 7:00 pagi Harun sudah sampai di kantor. Motornya di parkir paling ujung, di tempat pakir motor. Hanya ada beberapa motor pegawai yang sudah datang. Sambil menjinjing tas kesayangannya, Harun mengambil absen. Setelah itu, dia berjalan ke samping kantor, menuju Warung Tek Minah.

Dia langsung pesan teh telur sama Tek Minah, minuman kesukaannya. Mengambil duduk di meja paling sudut, tas diletakan di atas meja. Tak lama kemudian Tek Minah sudah menghidangkan Teh Telur, dengan sepotong asam, di atas piring. Di aduknya sambil meneteskan asam. Minum sedikit sambil menghisap rokok kretek kesukaannya. Seteguk, dihisapnya lagi dengan dalam rokok kreteknya. Jam 7:25 dia tinggalkan teh telur yang masih banyak, ditutup dengan piring tadah gelas dan dimatikan rokok kretek. Dia beranjak apel pagi.

Setelah apel, Harun kembali ke kedai Buk Minah. Dia pesan semangkok Indomie Telur, menemani Teh Telur dan Rokok yang masih tersisa. Sambil menunggu Indomie dihidangkan, Harun mulai bercerita tentang politik local, nasional, bahkan hingga Vladimir Putin sampai Mahatir, kepada kawan kawannya yang mulai berdatangan sehabis apel pagi.

“Kemaren Presiden mau turunkan harga dollar. Saya pikir tak mungkin, harga emas kan lagi naik”, kata Harun memulai pembicaraan. Baru dua orang pegawai yang datang.

“Ah, emas pula yang kau bicarakan pagi ini Harun. Berapa emas yang kau punya”, sela kawannya.

“Bukan soal berapa emas yang ku punya. Tapi kita harus pikirkan lah dampaknya pada rakyat. Nanti inflasi. Mahal pula beras dan cabe”,

“Ah, kau lihat tanggal berapa sekarang. Inflasi inflasi apa katamu. Udah tanggal 20. Beras ku di rumah sudah mau habis. Kau bilang pula harga beras naik. Pusing pula aku”, sela kawannya yang duduk di pojok. Seiring dengan itu, Indomie pesanan Harun sudah terhidang.

Dengan lahap Harun makan Indomie Telur. Sesekali dia reguk Teh Telurnya yang dari tadi tertutup tadah gelas. Dia tidak ingat lagi kepahitan ekonomi keluarganya. Dia juga tak peduli dengan kondisi ekonominya yang makin lama, makin sulit. Harun santai saja dengan kebiasaannya setiap hari.

Sampai jam 11 siang Harun masih membicarakan berbagai persoalan bangsa dan negara. Kalau sudah menjelang siang. Hanya Tek Minah dan pembantu lelakinya yang mendengarkan pembicaraan Harun. Kawan-kawannya sudah beranjak pergi masuk kantor. Harun tetap duduk. Tas penuh berisi Map yang dibawanya dari rumah masih tergeletak di sampingnya. Masuk kantor pun dia belum. Mendekati Jam 12 siang baru Harun beranjak masuk ke kantor dengan perut penuh Indomie dan Teh Telur.

Melirik ke Tek Minah,

“Catat dulu Tek Minah: Teh telur, Indomie, Rokok dua batang,”

Harun berjakan lambat. Sedikit berwibawa. Berjalan menuju ruangannya, yang dari tadi belum dia masuki. Kepala Seksinya sudah malas menegur Harun. Setiap ditegur selalu saja ada alasannya. Sesampai di meja, Tas diletakkan di atas meja. Harun melirik-lirik kiri kanan, melihat lihat kalau ada kawannya yang membuat Surat jalan. Mana tahu dia bisa diikutkan agar dapat uang jalan.

Di kalangan staf dan pejabat kantor, mereka tahu kalau Harun adalah ‘gadang ota’ yang tiap hari hanya maota sambil mengharapkan Surat Jalan. Tak ada keterampilan. Membuat Surat tidak bisa, apalagi mengetik dengan computer. Dia hanya bisa mengetik Surat Jalan dengan mesin ketik manual. Yang paling disukai Harun adalah nguping pembicaraan atasannya. Nanti dijabarkan lagi di kedai Tek Minah.

Kawan kawannya hanya mendengar dan sesekali mendebat agar Harun makin semangat bicaranya. Topik yang paling disemangati Harun adalah masalah politik, menggunjing atasan, mendiskusikan kepala-kepala Negara, dan masalah isu-isu.

Setelah pukul 1:00 siang, Harun kembali ke kedai Tek Minah. Minta Kopi Setengah dan rokok satu batang. Menjelang pulang dan mengambil absen pukul 4 sore, Harun kembali ke meja kerjanya. Membaca Koran, dan melirik kiri kanan, kalau ada honor yang bisa diterima. Kadang mampir ke ruangan bendaharawan untuk meminjam uang.

Saat jam pulang, Harun juga ikut pulang. Tas Hitam kesayangannya, yang belum pernah dibuka semenjak pagi, kembali di bawa pulang. Sesampai di rumah, dia jinjing tas, seperti orang litak (kelelahan yang sangat). Dia masuk ke rumah, lalu tidur rebahan. Sebentar dia keluar lagi. Duduk di balai balai, menunggu mertuanya datang duduk untuk diceritakan lagi soal politik, yang juga merupakan keesenangan mertuanya,

Harun akan bercerita bermacam isu dan berita yang didengar di kantor. Ini juga informasi peting bagi mertuanya, yang nanti di kedai kopi juga akan diceritakan mertuanya sambil menunggu kopi habis. Bagi mertuanya, ota Harun adalah hadiah yang paling menyegarkan setiap hari.

“Tadi saya membuat surat pemecatan Yah. Biar berhenti semua pejabat yang sombong dan tak layak”, jelasnya kepada mertuanya, yang dia panggil ayah.

“oo yaa. Lantas”,

“Ya terpaksa yah. Disuruh Kepala Dinas. Mereka Pemalas yah. Maunya honor dan uang jalan saja, tapi kerjanya malas. Dari pagi hingga sore duduk di kedai kopi saja Yah”.

“Jadi kamu yang bikin surat pemecatannya?”

“Iya Yah. Ada lagi yang bicara politik. Ya ditegur yah”, kata harun makin semangat.

Mertuanya mengangguk angguk.

Tak lama kemudian, azan magrib sudah memanggill.

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2019 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube