Headline News

header-int

Festival Literasi Pessel, Adril Yesmen Dorong Budaya Baca Tumbuh Menjadi Kecakapan Hidup.

Selasa, 03 November 2026, 11:12:15 WIB - 22 | Kontributor : Riva Endra
Festival Literasi Pessel, Adril Yesmen Dorong Budaya Baca Tumbuh Menjadi Kecakapan Hidup.

PESISIR SELATAN – Literasi tidak semestinya berhenti pada kecakapan mengeja huruf, membaca kalimat, atau menuliskan kata. Lebih dari itu, literasi merupakan kemampuan memahami, mengolah, menafsirkan, dan memanfaatkan informasi secara kritis untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Gagasan tersebut menjadi salah satu landasan penyelenggaraan Festival Literasi Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2026 yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pesisir Selatan pada 2–3 November 2026.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pesisir Selatan, Adril Yesmen, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa festival Literasi ini sebagai bagian dari ikhtiar untuk menumbuhkan budaya membaca, mengembangkan tradisi menulis, serta memperluas kecakapan masyarakat dalam memahami pengetahuan dan informasi.

“Penguatan literasi perlu dimaknai secara lebih menyeluruh. Masyarakat tidak cukup hanya didorong untuk gemar membaca, tetapi juga perlu dibekali kemampuan menyerap pengetahuan, mengembangkan gagasan, berpikir kritis, dan menerapkan informasi yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari”, katanya.

Dilanjutkannya konteks literasi menjadi bekal penting untuk membentuk masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Kemampuan membaca dan menulis merupakan fondasi, sedangkan kecakapan memahami informasi, menimbang kebenaran, serta menghasilkan pemikiran menjadi bagian dari perkembangan literasi yang lebih luas.

Pemahaman ini sejalan dengan konsep enam literasi dasar yang dikembangkan dalam Gerakan Literasi Nasional, meliputi literasi baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan.

“Literasi baca-tulis berkaitan dengan kemampuan memahami sekaligus menuangkan gagasan melalui tulisan. Literasi numerasi membantu seseorang menggunakan angka dan data dalam mengambil keputusan. Literasi sains mengembangkan kecakapan memahami fenomena alam dan sosial berdasarkan pengetahuan ilmiah”, jelasnya.

Sementara itu, untuk literasi digital masyarakat membekali agar mampu mengakses, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi melalui teknologi secara bijak sedangkan Literasi finansial membantu seseorang memahami pengelolaan keuangan, sedangkan literasi budaya dan kewargaan menumbuhkan kemampuan mengenali, menghargai, serta memahami keberagaman dan kehidupan bermasyarakat.

Enam ranah tersebut memperlihatkan bahwa literasi bukan hanya urusan ruang kelas atau perpustakaan. Ia bersentuhan langsung dengan kehidupan keluarga, lingkungan sosial, aktivitas ekonomi, perkembangan teknologi, hingga pelestarian kebudayaan.

Atas dasar pemahaman itu, Festival Literasi Pesisir Selatan dirancang dengan beragam kegiatan yang menyentuh berbagai kelompok usia dan lapisan masyarakat. Rangkaian kegiatan meliputi pameran literasi, lomba bertutur, bimbingan teknis menulis, lomba mewarnai antartaman kanak-kanak, bedah buku, diskusi literasi, serta talkshow interaktif.

“Setiap kegiatan memiliki ruang pembelajaran tersendiri. Lomba bertutur, misalnya, dapat menjadi wahana bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, menyusun alur cerita, sekaligus mengenal tradisi lisan. Bimbingan teknis menulis membuka kesempatan bagi peserta untuk mengolah pengalaman dan gagasan menjadi karya yang dapat dibaca orang lain.”, ungkapnya.

Sementara itu untuk bedah buku dan diskusi literasi menghadirkan ruang pertukaran pemikiran, sedangkan talkshow interaktif memungkinkan peserta memperluas wawasan melalui dialog. Adapun pameran literasi menjadi ruang apresiasi terhadap karya, bahan bacaan, dan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan pengembangan pengetahuan.

Lomba mewarnai bagi anak taman kanak-kanak juga memberikan ruang pengenalan literasi sejak usia dini melalui pendekatan yang menyenangkan. Pada tahap ini, pengalaman belajar tidak hanya dibangun melalui teks, tetapi juga melalui gambar, warna, pengamatan, dan ekspresi kreatif.

Adril berharap festival ini tidak berhenti sebagai perhelatan seremonial yang hanya ramai ketika berlangsung. Lebih penting dari itu, kegiatan tersebut diharapkan menjadi pemantik tumbuhnya gerakan literasi yang berkesinambungan, dengan perpustakaan sebagai salah satu simpul pembelajaran masyarakat.

Sebab, masyarakat yang literat bukan hanya masyarakat yang memiliki kemampuan membaca, melainkan masyarakat yang mampu memahami informasi, memilah fakta, mengembangkan pengetahuan, dan menggunakan kecakapannya untuk meningkatkan kualitas kehidupan.

“Melalui semangat Festival Literasi Pesisir Selatan diharapkan turut menumbuhkan masyarakat yang gemar membaca, produktif berkarya, mencintai kebudayaan, serta memiliki daya nalar dalam menyikapi perubahan zaman, Pada akhirnya, literasi bukan sekadar tentang seberapa banyak buku yang dibaca, melainkan sejauh mana pengetahuan mampu mengubah cara seseorang berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Dari sanalah peradaban tumbuh, gagasan bersemi, dan masa depan memperoleh pijakannya”, tutupnya.

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2026 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube