PESISIR SELATAN – Literasi bukan semata-mata perkara merangkai huruf menjadi kata atau menelusuri halaman demi halaman buku. Lebih jauh, literasi merupakan jendela pengetahuan, jembatan peradaban, sekaligus wahana untuk mengenali jati diri dan merawat ingatan kolektif suatu masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Bunda Literasi Kabupaten Pesisir Selatan, Hj. Lisda Hendrajoni, S.E., M.M.Tr., dalam sambutannya pada Festival Literasi Daerah Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2026, Senin (2/11).
Mengusung tema “Membaca Budaya, Merawat Warisan, dan Menulis Masa Depan”, festival ini dinilainya sebagai momentum untuk menumbuhkan kesadaran bahwa literasi memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi yang berpengetahuan, berkarakter, serta memiliki kecintaan terhadap akar kebudayaannya.
Lisda menjelaskan, membaca budaya berarti mengenali jati diri melalui nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur. Kekayaan tersebut mencakup adat istiadat, bahasa daerah, cerita rakyat, petatah-petitih, hingga kearifan lokal yang menjadi khazanah kehidupan masyarakat nagari.
“Jangan sampai anak-anak kita mengenal budaya bangsa lain, tetapi melupakan kekayaan budaya nagarinya sendiri. Sehingga cerita tentang leluhur hanya tersimpan dalam ingatan orang tua tanpa diteruskan ke generasi muda,” pesannya.
Menurutnya, warisan leluhur tidak cukup hanya dikenang sebagai bagian dari masa silam. Nilai-nilai tersebut perlu dipelajari, dipraktikkan, didokumentasikan, dan diwariskan kembali agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Karena itu, Lisda mengajak masyarakat memulai gerakan literasi dari lingkungan terdekat. Membiasakan membaca di rumah, menghadirkan buku dalam keluarga, menghidupkan perpustakaan nagari, menuliskan cerita rakyat, serta mendokumentasikan tradisi merupakan langkah sederhana yang dapat menjadi fondasi pelestarian kebudayaan.
Ia juga menekankan pentingnya memberikan ruang kepada anak-anak dan generasi muda untuk menyampaikan gagasan, mengembangkan kreativitas, serta melahirkan karya melalui tulisan.
“Menulis masa depan berarti memberikan ruang bagi anak-anak dan generasi muda untuk bermimpi, berkarya, berinovasi, serta menuangkan gagasan melalui tulisan,” ungkapnya.
Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, Lisda mengingatkan bahwa generasi muda tidak cukup hanya mahir menggunakan perangkat digital. Mereka juga harus memiliki kecerdasan berpikir dan kebijaksanaan dalam bertindak, sehingga teknologi menjadi sarana produktif untuk mengembangkan pengetahuan, bukan sekadar ruang konsumsi informasi.
Semangat tersebut, lanjutnya, sejalan dengan gerakan #NagariPandai, yakni mewujudkan nagari yang masyarakatnya gemar membaca, mencintai ilmu, menghargai budaya, menjaga warisan leluhur, serta mampu melahirkan generasi kreatif dan berdaya saing.
Lisda berharap Festival Literasi Daerah tidak berhenti sebagai perhelatan seremonial yang hanya semarak ketika berlangsung. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan menjadi titik mula tumbuhnya gerakan literasi yang berkelanjutan, bersemi di lingkungan keluarga, berkembang di sekolah, hidup di perpustakaan, dan mengakar di tengah masyarakat.
Melalui momentum tersebut, Bunda Literasi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan literasi sebagai bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Sebab, kebudayaan yang tidak dikenali perlahan dapat terlupakan, sedangkan warisan yang tidak didokumentasikan berisiko terputus dari ingatan generasi penerus.
Dengan semangat “Literasi Kuat, Budaya Terawat, Masa Depan Hebat”, Festival Literasi Daerah Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2026 diharapkan menjadi ruang persemaian gagasan, tempat tumbuhnya kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, sekaligus wahana pewarisan nilai-nilai budaya bagi generasi mendatang.

Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.