
PESISIR SELATAN – Bupati Pesisir Selatan, H. Hendrajoni, S.H., M.H., menegaskan bahwa literasi memiliki peran strategis dalam membangun kualitas sumber daya manusia sekaligus menjaga kesinambungan sejarah dan kebudayaan daerah. Menurutnya, kemajuan suatu daerah tidak semata-mata ditakar dari kemegahan infrastruktur, tetapi juga dari keluasan pengetahuan, daya cipta, serta kecakapan berpikir masyarakatnya.
Penegasan tersebut disampaikan Hendrajoni saat membuka Festival Literasi Daerah Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2026, Senin (2/11), yang mengusung tema “Melalui Festival Literasi: Membaca Budaya, Merawat Warisan, Menulis Masa Depan.”
Dalam sambutannya, Hendrajoni menyampaikan apresiasi kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan beserta seluruh pihak yang telah menggagas dan menyelenggarakan festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini tidak sepatutnya berhenti sebagai perhelatan seremonial, melainkan harus menjadi gerakan kolektif untuk menumbuhkan tradisi membaca, menulis, berkarya, dan berpikir kritis di tengah masyarakat.
“Festival literasi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, pameran buku, atau perlombaan. Lebih dari itu, ini merupakan gerakan bersama untuk membangun kualitas sumber daya manusia, memperkuat karakter generasi muda, dan menyiapkan masa depan Pesisir Selatan,” katanya.
Hendrajoni juga mengingatkan bahwa Pesisir Selatan memiliki khazanah sejarah, adat istiadat, kesenian, tradisi, cerita rakyat, serta kearifan lokal yang bernilai luhur. Kekayaan tersebut, menurutnya, harus diwariskan melalui dokumentasi dan karya tulis agar tidak tergerus oleh perubahan zaman.
Ia bahkan mendorong agar 182 nagari di Kabupaten Pesisir Selatan mulai menghimpun dan mendokumentasikan sejarah serta kebudayaan masing-masing. Dokumentasi itu dapat mencakup biografi tokoh daerah, cerita rakyat, adat istiadat, kesenian, hingga potensi unggulan nagari.
“Jika 182 nagari mampu menghasilkan dokumentasi sejarah dan budaya masing-masing, maka kita akan memiliki khazanah pengetahuan daerah yang sangat berharga. Inilah warisan intelektual yang harus kita tinggalkan untuk anak cucu kita,” lanjutnya.
Lebih jauh, Bupati mengaitkan penyelenggaraan festival dengan program unggulan pemerintah daerah, khususnya Nagari Pandai. Program tersebut tidak hanya dimaknai sebagai penguatan pendidikan formal, tetapi juga sebagai upaya membentuk masyarakat yang berilmu, berwawasan luas, kreatif, terampil, dan mampu mendayagunakan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan.
Untuk mendukung tujuan tersebut, Hendrajoni mendorong penguatan perpustakaan nagari, taman bacaan masyarakat, pojok baca di sekolah, serta pengembangan layanan perpustakaan digital. Perpustakaan diharapkan bertransformasi menjadi ruang pembelajaran masyarakat, bukan sekadar tempat menyimpan dan meminjam buku.
Ia turut menyoroti tantangan literasi di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya memiliki kemampuan membaca, tetapi juga harus cakap memilah informasi, membedakan fakta dan hoaks, memahami etika digital, serta menggunakan teknologi secara produktif.
“Jangan sampai kita melahirkan generasi yang aktif menggunakan media sosial, tetapi minim pengetahuan dan kemampuan berpikir kritis,” tambahnya.
Hendrajoni berharap generasi muda Pesisir Selatan tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu melahirkan karya, gagasan, inovasi, dan pengetahuan. Ia mengajak para pelajar dan mahasiswa menjadikan membaca sebagai kebiasaan, menulis sebagai keterampilan, serta berpikir kritis sebagai budaya.
Festival Literasi Daerah Tahun 2026 diisi dengan berbagai kegiatan, di antaranya pameran budaya dan literasi, lomba menulis dan membaca puisi, talkshow dan bedah buku, peluncuran buku serta antologi daerah, hingga pertunjukan seni dan budaya. Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang apresiasi sekaligus wadah tumbuhnya penulis, kreator, budayawan, dan komunitas literasi lokal.
Bupati juga mengingatkan agar gerakan literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, tetapi menjadi ikhtiar bersama seluruh perangkat daerah, satuan pendidikan, pemerintah nagari, budayawan, penulis, dan masyarakat.
Ia menghendaki agar festival tersebut meninggalkan hasil yang terukur, seperti bertambahnya penulis lokal, terbitnya buku-buku tentang Pesisir Selatan, tumbuhnya komunitas literasi, serta semakin luasnya akses masyarakat terhadap bahan bacaan.
“Pembangunan daerah tidak cukup hanya dengan membangun fisik, tetapi juga harus membangun manusianya,” tutupnya
Melalui festival ini, Hendrajoni berharap Pesisir Selatan dikenal bukan hanya karena keelokan alam dan kekayaan sumber daya alamnya, melainkan juga karena kekuatan budaya, kualitas sumber daya manusia, serta produktivitas intelektual masyarakatnya.
Festival Literasi Daerah Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2026 pun secara resmi dibuka oleh Bupati. Momentum tersebut diharapkan menjadi titik tolak bagi tumbuhnya ekosistem literasi yang berkelanjutan, sehingga pengetahuan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjelma menjadi kekuatan untuk merawat identitas dan menulis masa depan daerah.

Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.