Para penggemar batu akik Ujung Tanjung Kecamatan Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan buncah akibat fenomena munculnya bahan akik dalam jumlah sangat banyak di kawasan Pantai Ujung Tanjung. Fenomena kemunculan batu akik itu telah terjadi selama sepekan terakhir dan menyebabkan Ujung Tanjung menjadi tempat yang ramai dikunjungi pemburu batu akik.
Pada Selasa (16/6), batu akik itu tampak menempel dan menyembul ditebing Pantai Ujung Tanjung bagian selatan. Tinggi tebing diperkirakan rata-rata sekitar dua meter dengan panjang menyisir pantai sepanjang dua kilometer. Batu akik dengan ukuran paling besar seukuran gilingan cabai hingga seukuran kelereng itu tampak menempel didinding tebing sangat rapat. Semakin ke selatan jumlah bahan akik tampak semakin banyak. Tampak ratusan orang "panen" batu cincin dengan menyiapkan karung sebagai wadahnya. Mereka memilih bahan akik yang sesuai dengan selera. Berbagai jenis bahan akik dapat ditemukan pada musim kali ini.
Tries, warga setempat menyebutkan, kemunculan batu akik merupakan fenonena alam yang langka terjadi di Ujung Tanjung. Biasanya batu akik muncul memang pada musim-musim tertentu, misalnya bila musim angin selatan. Bebatuan terdorong ke pinggir pantai. "Tapi kemunculan batu kali ini sungguh luar biasa. Batu muncul di tebing pantai dalam jumlah sangat banyak. Saya baru pertama kali melihat batu cincin dalam jumlah banyak terpasang di dinding tebing. Tapu saya berkeyakinan, munculnya batu akik dalam jumlah luar biasa ini juga disebabkan kondisi iklim yang luar biasa pula di Ujung Tanjung," katanya.
Selanjutnya terkait fenonena kemunculan akik tersebut Bupati Pessel Nasrul Abit mengatakan, keberadaan batu akik Ujung Tanjung memang sangat ditentukan cuaca dan kekuatan arus laut. "Dari dahulu batu akik Ujung Tanjung memang seperti itu, kadang banyak namun terkadang hilang dari pantai. Batu Ujung Tanjung berpindah-pindah tempat seiring dorongan arus dan desakan ombak," katanya. Dikatakannya, tebing yang terbentuk dengan berbagai bebatuan akibat kikisan ombak itu tidak akan bertahan lama. "Ya, ketika ketinggian ombak berubah, maka tebing itu akan hilang dengan sendirinya begitu pula dengan batu akik tersebut," katanya.
Semenjak kemunculan batu tersebut terpantau ratusan orang setiap minggu memburu batu akik di Ujung Tanjung. Batu jenis kalsedon menjadi menarik perhatian warga Pessel karena sejumlah peghobi batu akik dari Pulau Jawa menampung batu berharga tersebut. Jasman (55), warga Amping Parak yang sengaja datang menyaksikan keajaiban tersebutut juga melakukan pencaharian berbagai jenis batu akik. Ia mengatakan, Ujung Tanjung diketahui juga mengandung batu kalsedon oleh warga luar Sumbar, yakni dari tanah Jawa baru baru ini.
"Selama ini, warga Pessel tidak mengetahui bahwa Ujung Tanjung memiliki batu kalsedon. Saya sendiri baru mengetahui sekitar dua bulan belakangan. Biasanya saya hanya memungut batu jenis limau manis, cimpago, widuri, anggur, ruyung saja. Saya tidak mengenal kalsedon," katanya. Harapan warga semakin membuncah setelah mengetahui sejumlah pencari batu kembali menemukan batuan serupa dan berhasil menjual dengan harga tinggi."Sejak itulah warga berbondong-bondong mencari peruntungan serupa di Ujung Tanjung," ujarnya. Sementara itu Chepon (38), salah soerang pengrajin batu akik di Surantiah Pessel menyebutkan, batu jenis kalsedon itu memang sedang diburu kolektor batu dari Jawa. Harga batu tersebut bervariasi tergantung jenis, warna dan klasifikasi batu tersebut.
"Menurut informasi, batu kalsedon adalah kuarsa jenis kriptokristalin (memiliki struktur kristal yang sangat halus) yang transparan atau tembus cahaya, digunakan sebagai hiasan dan permata. Kalsedon tidak sekeras kuarsa murni, dan terdapat dalam jumlah besar di rongga-rongga batu vulkanis. Kalsedon yang biasa tidak sepenuhnya transparan, tetapi memiliki bintik-bintik dan pusaran putih-susu. Warnanya beragam, seperti putih, abu-abu, kuning, biru, dan cokelat," katanya.

Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.