Headline News

header-int

Pesisir Selatan Jadi Ruang Belajar Pertanian Berkelanjutan bagi Timor Tengah Utara

Senin, 10 Agustus 2026, 22:50:49 WIB - 7 | Kontributor : Afrizal
Pesisir Selatan Jadi Ruang Belajar Pertanian Berkelanjutan bagi Timor Tengah Utara

PESISIR SELATAN — Kabupaten Pesisir Selatan menjadi ruang belajar bersama bagi Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, melalui kegiatan Knowledge Exchange atau Pertukaran Pengetahuan pada 11–13 Agustus 2026.

 

Kegiatan lintas daerah ini mempertemukan pemerintah daerah, penyuluh pertanian, petani, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan untuk bertukar pengalaman dalam mengembangkan pertanian berkelanjutan sekaligus memperkuat kolaborasi multipihak dalam pelokalan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

 

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari dukungan Program Sustainable Development Goals – South-South and Triangular Cooperation (SDGs-SSTC) Fase II yang didukung Pemerintah Federal Jerman melalui Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ).

 

Melalui pertukaran pengetahuan antardaerah, program ini mendorong agar pengalaman pembangunan yang telah berkembang di suatu daerah dapat dipelajari, diuji relevansinya, dan diadaptasi sesuai kebutuhan daerah lain.

 

Berbeda dengan kunjungan pembelajaran satu arah, pknowledge exchange Pesisir Selatan dan TTU dirancang sebagai proses saling belajar. Pesisir Selatan akan berbagi pengalaman penerapan Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT) atau Sawah Pokok Murah (SPM), serta tata kelola kolaborasi pembangunan melalui Sekretariat SDGs atau Dapur Kolaborasi SDGs.

 

Sementara itu, TTU akan berbagi pengalaman pengembangan Eco-Enzym yang telah diterapkan dalam konteks pertanian dan pengelolaan bahan organik.

 

Pertukaran tersebut mempertemukan dua pengalaman yang berkembang dalam konteks wilayah berbeda. Dari Pesisir Selatan, peserta akan melihat bagaimana praktik budidaya padi dikembangkan bersama petani sekaligus bagaimana kolaborasi multipihak dibangun untuk mendukung agenda pembangunan daerah.

 

Dari TTU, peserta akan mempelajari pengalaman pengembangan Eco-Enzym sebagai alternatif pemanfaatan bahan organik serta melihat peluang adaptasinya sesuai kebutuhan lokal.

 

Kepala BAPPERIDA Kabupaten Pesisir Selatan, Subchandri, S.E., M.Si., mengatakan nilai penting kegiatan tersebut bukan sekadar memindahkan suatu praktik dari satu daerah ke daerah lain, melainkan membangun proses pembelajaran yang memungkinkan setiap pengalaman dipahami sesuai konteksnya.

 

“Bagi kami, knowledge exchange bukan tentang memindahkan sebuah praktik dari satu daerah ke daerah lain. Yang lebih penting adalah saling memahami proses, bukti, tantangan, dan konteksnya, sehingga setiap pengalaman dapat diadaptasi menjadi solusi yang sesuai dengan kebutuhan daerah," ujarnya.

 

Salah satu praktik yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah MTOT, yakni pendekatan budidaya padi yang dikembangkan dengan mengurangi tahapan pengolahan tanah dan memanfaatkan mulsa. Praktik tersebut dinilai relevan untuk dipelajari karena berkaitan langsung dengan upaya meningkatkan efisiensi budidaya dan membantu petani mengendalikan biaya produksi.

 

Pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui paparan di ruang pertemuan. Peserta akan turun langsung ke lokasi praktik di Nagari Sungai Gayo Lumpo dan Nagari Sungai Sariak Lumpo, bertemu kelompok tani, melihat penerapan MTOT, serta berdiskusi mengenai manfaat dan tantangan yang dihadapi petani dalam penerapannya.

 

Selain praktik di lahan, pengalaman Pesisir Selatan dalam membangun kolaborasi pembangunan juga menjadi bagian penting dari pertukaran pengetahuan.

 

Subchandri mengatakan, melalui Dapur Kolaborasi SDGs, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan berupaya menyediakan ruang bagi pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan untuk bertemu, berbagi pengetahuan, serta mencari solusi bersama terhadap berbagai persoalan pembangunan.

 

“Pengalaman Pesisir Selatan menunjukkan bahwa kolaborasi tidak harus dibangun melalui satu forum untuk semua persoalan. MSP dapat tumbuh sesuai isu dan kebutuhan daerah, dengan mempertemukan aktor yang relevan. Karena itu, yang ingin kami bagikan kepada TTU bukan hanya bentuk kelembagaannya, tetapi cara membangun ekosistem kolaborasi agar berbagai pihak dapat mengambil peran dalam pembangunan,” katanya.

 

Pengalaman tersebut menjadi salah satu aspek yang menarik bagi TTU karena keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh program pemerintah, tetapi juga oleh kemampuan berbagai pihak untuk bekerja bersama.

 

Dalam konteks tersebut, Multi-Stakeholder Partnership (MSP) menjadi bagian penting dari knowledge exchange. Peserta tidak hanya belajar mengenai teknologi atau praktik pertanian, tetapi juga bagaimana pengetahuan, sumber daya, dan peran berbagai pihak dapat dipertemukan untuk menghasilkan perubahan di tingkat lokal.

 

Di sisi lain, TTU membawa pengalaman yang akan menjadi sumber pembelajaran bagi Pesisir Selatan melalui Eco-Enzym.

 

Pada sesi teknis, peserta akan mempelajari proses produksi, pengendalian atau standar kualitas, serta pemanfaatan Eco-Enzym berdasarkan pengalaman yang telah dikembangkan di TTU. Pembelajaran ini diharapkan membuka peluang bagi Pesisir Selatan untuk melihat pemanfaatan bahan organik dari perspektif berbeda dan mengidentifikasi kemungkinan penerapannya sesuai kondisi lokal.

 

Seluruh proses pembelajaran berlangsung dalam rangkaian kegiatan selama tiga hari. Peserta akan memulai kegiatan dengan koordinasi bersama Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan dan Sekretariat SDGs, kemudian mendalami tata kelola SDGs dan kolaborasi multipihak.

 

Pembelajaran dilanjutkan dengan praktik MTOT bersama kelompok tani di Nagari Sungai Gayo Lumpo dan Nagari Sungai Sariak Lumpo, serta sesi teknis mengenai Eco-Enzym. Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk memastikan hasil pertukaran pengetahuan dapat diteruskan setelah kegiatan berakhir.

 

Bagi kedua daerah, keberhasilan pertukaran pengetahuan tidak berhenti pada tiga hari pertemuan, tetapi pada apa yang dapat diterapkan dan dikembangkan setelah peserta kembali ke daerah masing-masing.

 

Karena itu, kedua daerah akan mendorong tindak lanjut berupa pembentukan tim pelatih lokal, penguatan petani ahli, pengembangan plot demonstrasi MTOT yang terintegrasi dengan pembelajaran Eco-Enzym, dokumentasi praktik baik, serta penguatan jejaring kerja sama antardaerah.

 

Rencana tindak lanjut dan target replikasi akan difinalisasi bersama oleh kedua daerah pada akhir rangkaian knowledge exchange.

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.
© 2026 Kabupaten Pesisir Selatan. Follow Me : Facebook Youtube