PESISIR SELATAN – Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Pesisir Selatan, Oktarina Risnaldi, menegaskan bahwa keberadaan Bundo Kanduang tidak boleh dimaknai hanya sebagai simbol adat atau sebatas pelengkap acara seremonial.
Lebih dari itu, Bundo Kanduang merupakan mitra strategis niniak mamak dalam menjaga kelestarian adat, memperkuat ketahanan keluarga, sekaligus mendukung pembangunan nagari.
Hal tersebut disampaikan Oktarina Risnaldi dalam sambutannya pada pelantikan Pengurus Bundo Kanduang Kecamatan Sutera, Sabtu (1/8/2026).
Turut hadir dalam kesempatan itu, anggota DPRD Ardiul, Ikal Jonedi, dan Jetrizanko, Camat Sutera Iwal, Ketua LKAAM Sutera, Ketua Bundo Kanduang Pessel dan jajaran, Ketua KAN, niniak mamak dan tamu undangan lainnya.
Atas nama GOW Kabupaten Pesisir Selatan, Oktarina mengucapkan selamat kepada seluruh pengurus yang baru dilantik. Ia menyebut amanah yang diberikan bukanlah tanggung jawab yang ringan, namun diyakini dapat dijalankan dengan baik apabila dilandasi keikhlasan dan semangat kebersamaan.
"Selamat dan sukses kepada seluruh pengurus Bundo Kanduang yang hari ini resmi dilantik. Amanah ini bukan amanah yang ringan, namun dengan niat yang ikhlas dan kebersamaan, insya Allah dapat dijalankan sebaik-baiknya," ujarnya.
Menurutnya, dalam falsafah Minangkabau, Bundo Kanduang memiliki kedudukan yang sangat mulia sebagaimana tergambar dalam pepatah adat "Limpapeh rumah nan gadang, amban puruak pagangan kunci." Maknanya, Bundo Kanduang merupakan penyangga keluarga, penjaga martabat kaum, sekaligus tempat anak kemenakan memperoleh nasihat dan bimbingan.
Ia menekankan bahwa peran tersebut tidak cukup diwujudkan melalui pakaian adat semata, melainkan melalui keteladanan dalam sikap, perkataan, dan perbuatan di tengah masyarakat.
Oktarina juga mengingatkan bahwa kehidupan masyarakat Minangkabau berdiri di atas falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Karena itu, Bundo Kanduang memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga nilai-nilai adat, membina akhlak generasi muda, memperkuat ketahanan keluarga, serta menjadi mitra pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang maju, religius, dan tetap berakar pada budaya.
Di tengah derasnya perubahan sosial dan perkembangan teknologi, menurutnya, tantangan dalam mendidik generasi muda semakin kompleks. Oleh sebab itu, Bundo Kanduang dituntut mampu menjadi panutan, pengayom, sekaligus motor penggerak dalam kegiatan sosial, budaya, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan di nagari.
"Zaman sekarang membawa tantangan yang tidak ringan. Karena itu, Bundo Kanduang diharapkan mampu menjadi pedoman dalam mendidik anak cucu agar tetap berpegang pada nilai adat, agama, dan akhlak mulia," katanya.
Ia juga mengajak seluruh pengurus Bundo Kanduang untuk memperkuat sinergi dengan pemerintah nagari, TP-PKK, Kerapatan Adat Nagari (KAN), GOW, organisasi perempuan, serta seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, semangat kebersamaan sebagaimana pepatah Minangkabau "Saiyo sakato, ringan samo dijinjiang, barek samo dipikua" harus menjadi landasan dalam menjalankan berbagai program demi kemajuan nagari.
"Kebersamaan, saling menghargai, dan saling menguatkan merupakan modal utama dalam membangun nagari. Tidak ada pekerjaan besar yang bisa diselesaikan sendirian," ungkapnya.
Di akhir sambutannya, Oktarina mengajak seluruh pengurus menjadikan amanah tersebut sebagai ladang ibadah dan pengabdian. Ia berharap para pengurus bekerja dengan tulus, mengedepankan musyawarah, serta menjadi teladan di tengah masyarakat.
Ia optimistis, dengan kekompakan seluruh elemen masyarakat, Bundo Kanduang di Nagari Koto Taratak, Ampiang Parak, dan Sutera akan semakin maju serta mampu melahirkan generasi Minangkabau yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan mencintai adat budayanya.

Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Wadah informasi bagi masyarakat dari pemerintah. Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.